oleh

Begini cara orang Bugis Makassar dimasa lalu protes kebijakan raja

Pemerhati Budaya, M Farid Makkulau (baju putih)

BeritaPangkep – Dalam sistem feodal, dimanapun kekuasaan raja bersifat mutlak. Ia tak hanya pemimpin politik kerajaannya, seorang raja juga menjadi satu-satunya penentu arah kebijakan ekonomi, budaya bahkan agama masyarakat. Makanya, ketika membayangkan sistem kerajaan, tak sedikit kita membayangkan otoritarianisme tanpa batas. Protes kebijkan raja berarti mati.

Namun, di kerajaan suku Bugis Makassar hal itu tidak sepenuhnya berlaku. Pemerhati budaya, Farid Makkulau mengatakan, meski kekuasaan terpusat pada raja, namun ruang bagi warga untuk menolak kebijakan tetap terbuka. Walau tak sebebas dalam sistem demokrasi, dalam kerajaan Bugis Makassar, ada cara tersendiri bagi perwakilan warga untuk menolak atau memprotes tingkah laku raja yang merugikan masyarakat.

“Jadi dimasa lalu itu, kalau ada maklumat kebijakan dari kerajaan yang ditolak oleh warga, maka kepala kampung atau gallarrang pergi kedepan istana (saoraja) dan memiringkan songkoknya depan raja. Biasa juga sarungnya dibuka dan diselempangkan ke pundak. Dengan begitu, raja tahu kalau ada sesuatu yang diprotes warga,” kata Farid.

“Songkok atau penutup kepala dan sarung itu simbol kehormatan bagi orang Bugis Makkasar. Kalau keduanya sudah dipakai tidak seperti seharusnya berarti ada sesuatu. Disitu seorang raja sudah paham. Biasanya orang yang melakukan itu dipanggil dan ditanya prihal aksinya itu,” ucapnya.

Penulis buku Manusia Bissu ini menuturkan, hal seperti ini merupakan simbol tingginya adat saling menghargai dalam kehidupan Bugis Makassar. Seorang warga tak perlu berteriak atau memasang spanduk besar menolak sebuah kebijakan yang menindas. Begitupun raja, dengan adanya aksi protes seperti ini, maka kata Farid kebijakan itu akan dievaluasi bersama penasehatnya.

Ia berharap agar sejarah Bugis Makassar mendapat tempat lebih dalam kurikulum sekolah sebagai kearifan lokal di Sulawesi Selatan. “Merawat tradisi sipakatau atau saling menghargai sesama manusia itu seharusnya melalui sekolah-sekolah agar anak-anak kita tidak kehilangan jati diri Bugis Makassar,” ujarnya.

Komentar

Disarankan Untuk Anda