Perjalanan ke puncak gunung untuk mencerdaskan bangsa

0
77

BeripaPangkep – Kabupaten Pangkep merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dianugerahi kekayaan alam berupa bentang alam yang terdiri dari kepulauan, daratan dan juga pegunungan. Tentu saja kekayaan alam ini, disatu sisi juga melahirkan tantangan.

Salah satunya soal pendidikan bagi anak-anak yang berada di daerah terpencil. Hal inilah yang dijalani setiap hari oleh Sahari, salah satu guru yang mengabdi di SD Bung yang ada di Pangkep. Kepada beritapangkep.com, Sahari yang mengajar dikelas 1 ini menceritakan suka dukanya mengajar di SD terpencil yang letaknya ada di puncak gunung.

Dari rumah, ia mengendarai sepeda motor menuju kaki gunung yang ada di Pangkep. Dari sini, perjalanan sesungguhnya barulah dimulai. Ia harus berjalan kaki menuju puncak gunung, tempat SD 60 Bung berada. SD 60 Bung terdapat di atas gunung coppo tellue, Kampung Buung, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep adalah salah satu Sekolah pelosok yang hingga saat ini belum dialiri listrik, tidak ada akses kendaraan dan tidak ada sinyal selular yang membuat masyarakat disana hidup sangat sederhana.

kampung buung
Pemandangan indah terbentang saat di kaki gunung menuju ke tempat mengajar (Foto: Dok pribadi)

Perjalanan menuju tempatnya mengabdi bukanlah jalan biasa. Bukit terjal dan pemandangan indah menakjubkan adalah hiburannya dalam perjalanan. Berbekal nasi dan sebotol air ia pun menyusuri lereng gunung yang membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke tempatnya mengajar.

Terkadang saya harus menemui hewan hutan seperti ular, babi hutan atau bahkan monyet yang siap merampas bekal yang saya bawa dalam perjalanan, kenangnya.

Tantangan perjalanannya tidak hanya itu tetapi saat musim hujan dan tidak ada tempat untuk berteduh karena perjalanan di tengah hutan.

Saya kadang basah kuyup sampai disekolah jika saya lupa membawa mantel, Ujuranya kepada beritapangkep.com

Sudah 10 tahun hal tersebut dilakoninya. Alumni Universitas Islam Makassar ini mengungkapkan bahwa salah satu suka yang dialaminya adalah bertemu dengan warga pengunungan yang ramah. Tetapi duka yang paling terasa adalah saat ia tiba di tempatnya mengajar, ternyata tidak satupun murid yang hadir.

“Siswa(i) disana kadang tidak masuk sekolah, ia jaga harus rumah karena jika orang tua mereka kepasar, rumah tidak boleh ditinggal kosong karena Monyet bisa saja masuk kedalam rumah dan mengambil bahan makanan yang ada dalam rumah jika tidak ada orang” Terangnya. Selain itu anak anak sekolah kadang ikut membatu orang tuanya berkerja disawah dan berkebun.

SD 60 Bung tempatnya mengajar memang masih sangat sederhana. Masih banyak murid-murid yang bahkan belajar Bahasa Indonesia hanya di sekolah. Tak hanya itu tempatnya mengajar 46 siswa(i) masih berupa bangunan semi permanen dan hanya terdiri dari tiga kelas.

Murid kelas 1,2 dan 3 bergantian menggunakan kelas yang sama. Demikian halnya dengan murid kelas 4 dan 5, dan hanya murid kelas 6 yang memiliki ruang kelas sendiri. Sebagian besar dari mereka berasal dari kampung yang harus berjalan kaki selama 2 jam melewati pematang sawah dan hutan untuk tiba di sekolah.

Sebuah perjalanan penuh dedikasi yang diperlihatkan oleh anak bangsa untuk mencerdaskan anak bangsanya yang lain yang berada di puncak gunung. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here