30 C
Pangkajene
Rabu, Januari 20, 2021

Selamat Jalan Bissu Tanre, Bissu Matang

PANGKEP, BeritaPangkep – Bissu senior atau Bissu Tanre, Matang (80 tahun) menghembuskan nafas terakhir. Bissu Matang adalah satu dari delapan orang bissu yang tersisa. Ia meninggal setelah beberapa hari terakhir, penyakit ginjalnya kambuh.

Bissu Matang cukup dikenal banyak orang, ia selalu tampil menusuk-nusuk tibuhnya dengan badik atau keris dalam ritual maggiri. Kabar meninggalnya disampaikan Bissu Eka melalui pesan WhatsApp kepada Berita Pangkep.

“Selamat jalan Bissu Matang, semoga diampuni semua dosanya dan diberi tempat yang layak disisi Tuhannya.
Dikebumikan besok pagi di kampung Kanaungan Pangkep. Terima kasih kepada semua sahabat yg trlah membantu dalam pengotannya selama ini. Selamat jalan maestro,” kata Bissu Eka, Rabu (6/1/2021).

Sejumlah pihak juga menyatakan kehilangan Bissu Matang. Ketua Umum Lembaga Badik Celebes, Djadjang Andi Abbas diakun Facebooknya menyampaikan dukanya.

“Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun Rewe’ni ri Pammasena Dewata SeuawaE. Bissu Matang. Makkappi maliweng malinrunguno ko majeng, mutangangi lebbana paliurung tellu sakke. Oooh Rue ..mu sanre tajang palanroE. Tenna nu kapini walerang. Selamat Jalan Bissu Matang Bernyanyi dan bersenandunglah di samping penciptamu. Sere’ bissu mu takkan kami lupa,” tulisnya.

Komunitas Bissu Segeri Pangkep merupakan penjaga tradisi dan budaya. Dimasa lalu, peran mereka cukup penting, memimpin upacara atau ritual kerajaan. Dalam kepercayaan Bugis, Bissu merupakan gender kelima selain perempuan (makunrai), laki-laki (uroane), perempuan berpenampilan laki-laki (calalai), dan laki-laki berpenampilan perempuan (calabai).

Pengamat budaya Pangkep, M Farid Makkulau atau Etta Adil mengatakan, Komunitas Bissu itu unik, karena ada kepercayaan dan pranata adat masa lampau yang dipegangnya untuk dijaga demi keberlangsungan hidupnya. Karena itu pula yang bisa melestarikan eksistensi bissu tak lain adalah bissu itu sendiri. Karena menjadi bissu atau bagian dari bissu tidak bisa dipraktekkan oleh orang diluar bissu.

“Hal ini terkait kepercayaan dan pranata adat tadi. Seni Tradisional Maggiri ala Bissu bisa dipelajari oleh orang diluar bissu, jika dihilangkan aspek ritualnya. Hanya menjadi sekadar tarian belaka, juga tidak menggunakan keris asli saat menusuk badan,” terang pemiik website Palontaraq.id ini.

Ia berharap, sebagai apresiasi dan penghormatan terhadap pelaku budaya, Pemerintah Kabupaten Pangkep seharusnya dapat memberikan gaji tersendiri atas jasa pertunjukannya saja setiap waktu atas event budaya yang diselenggarakan.

Ikuti Kami

7,369FansSuka
3,210PengikutMengikuti
458PengikutMengikuti
10,245PelangganBerlangganan

BERITA TERBARU