BPS-Istana Memberikan Peringatan Karena Harga Beras Masih Tinggi
Jakarta, PANGKEP NEWS – Harga beras tetap tinggi dan berada di zona yang tidak aman, meskipun variasi harga antar daerah relatif rendah.
Informasi ini disampaikan dalam paparan oleh Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, dan Deputi III Bidang Perekonomian di Kantor Staf Presiden (KSP), Edy Priyono, pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025, Selasa (10/6/2025).
Pudji menjelaskan, komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan IPH terbesar di Sumatra adalah daging sapi, daging ayam, dan beras. Sementara di Jawa, kenaikan dipicu oleh harga daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit.
Sedangkan di luar Jawa dan Sumatra, beras dan cabai merah menjadi penyebab utama kenaikan IPH. Data ini berdasarkan 10 daerah dengan kenaikan IPH tertinggi di masing-masing wilayah.
Menurut perkembangan beberapa komoditas yang mempengaruhi perubahan IPH, lanjut Pudji, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga daging ayam ras pada pekan pertama Juni 2025 meningkat menjadi 156 lokasi dari sebelumnya 65 wilayah.
“Beras juga mengalami hal serupa, dengan 119 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya yang hanya 97 lokasi,” ungkapnya.
“Kami berikan peringatan ini karena meskipun perubahan IPH (Indeks Perkembangan Harga) relatif rendah, harga tetap tinggi dibandingkan HET,” tambah Pudji.
Zona Tidak Aman
Deputi III Bidang Perekonomian KSP, Edy Priyono, menyatakan bahwa hasil monitoring menunjukkan kondisi harga pangan belum berubah signifikan dibandingkan dua pekan sebelumnya.
“Kita masih memiliki pekerjaan rumah, yaitu harga bawang putih, beras medium khususnya di Zona 3, dan Minyakita,” ujar Edy.
Secara spesifik, KSP menetapkan harga beras di Zona I dan II dalam status Waspada, sementara di Zona III dalam kondisi tidak aman karena harga berada di atas HET.
“Untuk beras, Zona 3 perlu perhatian khusus meskipun sudah ada penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya. Dia juga mengapresiasi langkah Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan pemerintah daerah Maluku dan Papua.
“Setidaknya, perbedaan harga di pasar dan HET tidak terlalu besar. Jika dibandingkan, di Zona I dan II perbedaan hanya sekitar 9%, sedangkan di Zona III mencapai 24%, yang sudah ada perbaikan dari sebelumnya 25%. Peran pemerintah daerah sangat penting,” tegas Edy.
“Zona I juga perlu perhatian karena meskipun perbedaan harga tidak terlalu besar dari HET, ada kecenderungan kenaikan,” tambahnya.
Perlu Intervensi
Dalam materi paparan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, dinyatakan bahwa berdasarkan Panel Harga Pangan, secara nasional harga beras medium berada di Rp13.891 per kg atau 11,13% di atas HET.
Intervensi diperlukan di daerah dengan inflasi tinggi.