Kerusuhan di Los Angeles, Pusat Ekonomi AS Terancam Terganggu
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Kerusuhan terjadi di Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS). Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan ekonomi di California hingga ke seluruh AS.
Kerusuhan ini dipicu oleh operasi imigrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ICE (U.S. Immigration and Customs Enforcement) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di kawasan Garment District dan Compton. Konflik semakin meluas hingga menyebabkan ketegangan sosial.
Awalnya protes berlangsung damai, namun menjadi kacau ketika aparat menggunakan gas air mata dan peluru karet. Beberapa kendaraan, termasuk mobil otonom, dibakar, dan ratusan orang ditangkap, termasuk dua warga negara Indonesia.
Pemicu utama dari kerusuhan ini adalah ketegangan antara kebijakan imigrasi federal dan realitas demografis di Los Angeles, di mana sepertiga penduduknya adalah kelahiran luar negeri.
Pemerintahan Trump meningkatkan target deportasi hingga mencapai 3.000 penangkapan per hari, mengincar restoran hingga toko-toko ritel.
Gubernur California, Gavin Newsom, menilai langkah pengerahan militer oleh Presiden melanggar hukum federal. Potensi pelanggaran Posse Comitatus Act sangat mungkin terjadi.
Los Angeles, sebagai kota yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, adalah pusat industri kreatif, teknologi, manufaktur, dan logistik AS. Ironisnya, di tengah kerusuhan sosial ini, California baru saja dinobatkan sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia, menggeser Jepang.
Peran Penting Ekonomi Los Angeles
Negara bagian California menghasilkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$4,1 triliun. Los Angeles County menjadi wilayah dengan diversifikasi ekonomi paling kuat di dalamnya.
PDB Los Angeles diperkirakan mencapai US$1,3 triliun, hanya kalah dari Kota New York.
Los Angeles memiliki populasi sekitar 14,9 juta jiwa pada 2020, dengan PDB per kapita mencapai US$61.700 atau sekitar Rp 1,03 miliar (US$1=Rp 16.625).
Kota ini menempati peringkat ke-4 sebagai kota terpadat di Benua Amerika dan berada di peringkat ke-36 untuk PDB per kapita dari 347 kota di seluruh dunia.
Dengan sekitar 5,5 juta tenaga kerja, sektor terbesar di LA adalah jasa profesional dan bisnis yang menyerap 21,71% tenaga kerja, termasuk di dalamnya jasa ilmiah dan teknis (12,06%). Sektor penting lainnya adalah jasa pendidikan dan kesehatan (17,73%), dengan subsektor utama layanan kesehatan rawat jalan (7,9%).
Ekonomi Los Angeles ditopang oleh 12 sektor utama, mulai dari teknologi tinggi, industri kreatif, hingga perdagangan internasional. Sektor manufaktur di wilayah ini merupakan yang terbesar di Amerika, dengan lebih dari 36.000 perusahaan yang mempekerjakan lebih dari satu juta orang. Dalam beberapa tahun terakhir, LA juga menjadi pusat investasi teknologi dan pengembangan kendaraan listrik.
Namun, ketegangan sosial membawa risiko tersendiri. Investor mulai menahan ekspansi di sektor properti dan komersial. Beberapa kawasan yang terdampak mulai mengalami penurunan sentimen pasar. Padahal, LA sedang bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade 2028, dengan proyeksi perputaran ekonomi mencapai miliaran dolar. Ketidakpastian sosial dapat mengancam momentum pertumbuhan jangka menengah.
Data dari Gubernur Gavin Newsom menunjukkan bahwa California tumbuh 6% pada 2024, lebih tinggi dari AS (5,3%), Jerman (2,9%), bahkan China (2,6%).
Namun, angka saja tidak cukup. Ketika kepercayaan publik goyah dan struktur sosial terguncang, ekonomi bisa kehilangan daya dorongnya.
PANGKEP NEWS Indonesia Research