Jakarta, PANGKEP NEWS
Ketegangan terkait potensi perang nuklir antara Israel dan Iran terus meningkat. Kedua belah pihak mengklaim memiliki informasi intelijen yang menunjukkan perkembangan senjata berbahaya masing-masing.
Menurut laporan pada hari Rabu (11/6/2025), Dewan Perlawanan Nasional Iran (NCRI) mengaku telah mendapatkan informasi tentang rencana Teheran dalam pengembangan senjata nuklir. Informasi ini diperoleh oleh faksi utama NCRI, Mojahedin-e-Khelq (MeK), juga dikenal sebagai Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (PMOI).
Juru bicara MeK, Alireza Jafarzadeh, menyatakan pengembangan senjata ini adalah bagian dari ‘Rencana Kavir’. Rencana tersebut melibatkan setidaknya enam lokasi di Provinsi Semnan, Iran, yang dikhususkan untuk memajukan teknologi senjata nuklir, termasuk uji coba hulu ledak dan detonator.
Rencana ini menggantikan ‘Rencana Amad’ sebelumnya yang berjalan dari tahun 1999 hingga 2003, sebelum pengungkapan oleh MeK memaksa pemerintah Iran menutup program tersebut.
“Rencana Kavir bukan hanya pengganti Rencana Amad, tetapi merupakan rencana yang lebih maju, lebih canggih, dan lebih aman,” kata Jafarzadeh.
Tuduhan terbaru MeK muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, yang mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran, meskipun ada negosiasi nuklir yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, telah memperingatkan Netanyahu agar tidak melakukan tindakan semacam itu di tengah perundingan, sementara pejabat Iran mengancam akan merespons dengan keras terhadap setiap permusuhan.
Laporan yang dirilis pada hari Senin oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memperingatkan bahwa situs nuklir Israel akan menjadi target jika Tel Aviv menyerang. Dewan tersebut menyebutkan bahwa intelijen Iran telah memperoleh sejumlah besar informasi strategis dan sensitif tentang program nuklir Israel.
“Dokumen dari Israel yang diperoleh oleh Republik Islam akan digunakan oleh angkatan bersenjata kami yang kuat, dan sebagian dari dokumen tersebut dapat dipertukarkan dengan negara-negara sahabat atau diberikan kepada organisasi dan kelompok anti-Zionis,” kata Kementerian Intelijen Iran.
Pada hari yang sama, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan bahwa klaim Iran tampaknya merujuk ke Pusat Penelitian Nuklir Soreq milik Israel. Situs ini adalah salah satu yang menjadi target inspeksi IAEA.
Israel diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meskipun pejabatnya tidak pernah mengonfirmasi atau membantahnya. Para ahli dan mantan pejabat nuklir Israel menyatakan bahwa mencegah negara lain di kawasan ini memiliki kemampuan nuklir adalah prioritas Tel Aviv.
Jafarzadeh menolak berkomentar apakah MeK bekerja sama dengan Israel dalam masalah ini. Namun, ia mengonfirmasi bahwa informasi tersebut telah dibagikan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
“Di AS, kami hanya berurusan dengan pemerintah AS, Kongres AS, dan publik,” kata Jafarzadeh.
MeK didirikan pada tahun 1965 sebagai kelompok sayap kiri yang menentang pemerintahan Shah Mohammed Reva Pahlavi. Meskipun awalnya mendukung Revolusi Islam 1979, kelompok ini kemudian melanjutkan kampanye bersenjatanya. Saat ini, MeK dipimpin oleh Maryam Rajavi dan berbasis di Albania dan Prancis, mengklaim beroperasi sebagai parlemen di pengasingan dengan jaringan bawah tanah di Iran.
Pejabat Iran telah mengutuk MeK atas keterlibatannya dalam serangan terhadap warga sipil di Teheran dan menyebut kelompok tersebut sebagai alat AS, Israel, dan negara-negara Eropa.