Jakarta, PANGKEP NEWS
Rusia dilaporkan telah mendapatkan kontrak untuk membangun delapan pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran. Ini terjadi ketika Teheran masih menghadapi tekanan dari Barat terkait teknologi nuklirnya.
Menurut Juru Bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, Ebrahim Rezaei, pada Senin (9/6/2025), setidaknya empat unit baru akan didirikan di Bushehr, yang merupakan lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang saat ini beroperasi.
“Kami memiliki kontrak dengan Rusia untuk mendirikan delapan pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran, di mana empat di antaranya akan berada di Bushehr,” ujar Rezaei.
Fasilitas di Bushehr dengan kapasitas 1.000 MW selesai dibangun oleh Rusia pada Mei 2011. Pembangkit ini telah menjadi pusat dari program energi nuklir sipil negara tersebut dan telah lama dioperasikan dengan kolaborasi Rosatom, badan nuklir milik negara Rusia.
Pada Februari tahun sebelumnya, Lembaga Energi Atom Iran (AEOI) mengumumkan bahwa pembangunan telah dimulai pada pembangkit listrik Iran-Hormoz berkapasitas 5.000 MW, yang akan memiliki empat reaktor masing-masing berkapasitas 1.250 MW, di sekitar kota Minab dan Sirik di provinsi pesisir selatan Hormozgan. Pemerintah memperkirakan proyek tersebut akan membutuhkan dana investasi sebesar US$ 15 miliar (Rp 243 triliun).
Pada April, Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, menyatakan bahwa Rusia akan mendanai pembangunan pabrik nuklir baru di Iran. Paknejad menambahkan bahwa kedua negara akan bekerja sama dalam membangun fasilitas energi nuklir baru dan menyelesaikan tahap kedua dan ketiga dari pembangkit listrik di Bushehr dengan menggunakan jalur kredit Moskow.
Parlemen Iran pada 21 Mei telah meratifikasi kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Rusia. Kesepakatan ini dilaporkan akan memperluas kerja sama ekonomi dan militer antara kedua negara.
Berita ini muncul di tengah perundingan sengit antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait pengembangan nuklir. AS dan beberapa sekutunya telah menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran, mencurigai bahwa proyek nuklir tersebut bertujuan untuk mengembangkan senjata, tuduhan yang dibantah keras oleh Iran.
Presiden AS, Donald Trump, telah berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika perundingan mengenai program nuklirnya gagal. Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah.
Langkah ini termasuk pengerahan pesawat pengebom B-2 dan kapal induk. Selain itu, dilaporkan bahwa Washington akan melakukan evakuasi sebagian diplomatnya di Irak, yang merupakan tetangga dekat Iran dan mitra AS.