Ancaman Gempa Megathrust di Indonesia, AI Hadir Sebagai Solusi?
Jakarta, PANGKEP NEWS – Bencana alam adalah kejadian yang datang tanpa diduga. Saat ini, ada kekhawatiran bahwa potensi gempa megathrust di wilayah Indonesia hanya menunggu waktu untuk terjadi.
Pernyataan ini diperkuat oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, beberapa waktu lalu.
BMKG telah mengeluarkan peringatan mengenai dua zona megathrust yang harus diwaspadai, yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua zona ini telah lama tidak mengalami gempa atau seismic gap selama berabad-abad. Biasanya, gempa besar terjadi dalam siklus yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun.
Untuk mengurangi dampak dari gempa megathrust, kini bencana tersebut dapat diprediksi lebih awal dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. sedang mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi berbasis Distributed Acoustic Sensing (DAS), sebuah inovasi berbasis AI yang memanfaatkan kabel optik bawah laut untuk memantau aktivitas seismik secara langsung.
Dengan memanfaatkan jaringan kabel optik bawah laut milik Telkom yang membentang dari Sabang hingga Merauke, sistem ini dapat mendeteksi gelombang primer (P-wave), sinyal awal sebelum datangnya gelombang sekunder yang merusak (S-wave).
Sistem ini mampu memberikan peringatan beberapa detik hingga menit sebelum guncangan utama terjadi, memberikan waktu yang sangat berharga untuk evakuasi dini.
Pemrosesan data dilakukan secara real-time dan terintegrasi dengan sistem geospasial, memungkinkan respons terhadap bencana yang lebih cepat dan terkoordinasi.
“Teknologi ini menawarkan solusi yang cepat, presisi, dan dapat menjangkau area rawan yang selama ini kurang mendapat pemantauan,” kata Kuwat Triyana, anggota tim peneliti UGM, dalam keterangannya di situs resmi UGM, dikutip Minggu (15/6/2025).
Mantan President Director PT Telkom Indonesia, Ririek Adriansyah, menjelaskan bahwa penggunaan kabel optik sebagai alat deteksi juga dapat meningkatkan ketahanan aset nasional yang penting dari berbagai risiko alam.
Ririek menambahkan bahwa penggunaan kabel optik yang sudah ada membuat sistem ini efisien dan mudah dikembangkan. Jalur kabel optik Telkom telah membentang di berbagai zona subduksi aktif di wilayah selatan Jawa, Nusa Tenggara, dan pantai barat Sumatra.
“Tanpa perlu pemasangan sensor baru, sistem ini dapat menjangkau area laut dalam yang sebelumnya belum terjangkau oleh sistem peringatan konvensional,” ujar Ririek.
Saat ini, sistem deteksi DAS sedang dalam tahap uji coba di kawasan Pantai Selatan Jawa dan akan diperluas ke wilayah rawan lainnya. UGM dan Telkom juga sedang merancang protokol kolaboratif agar data dapat diakses terbuka untuk penelitian dan kebijakan publik.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem nasional dalam menghadapi bencana secara lebih terpadu dan responsif.