Kehilangan Jenderal Iran, Masa Depan Ayatollah Ali Khamenei Dipertanyakan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Kematian sejumlah penasihat militer penting bagi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara Israel telah membuat posisi pemimpin tertinggi Iran itu semakin terasing. Menurut beberapa sumber, hal ini bisa mengganggu stabilitas dalam membuat keputusan di Iran.
Pada usia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei mengalami kehilangan sejumlah komandan elit Garda Revolusi dalam serangkaian serangan sejak Jumat, 13 Juni. Beberapa di antaranya adalah komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Salami, jenderal program rudal balistik Amir Ali Hajizadeh, dan kepala intelijen Mohammad Kazemi. Mereka semua tewas dalam satu serangan yang disebut ilegal oleh Israel, menurut lima narasumber yang dekat dengan proses pengambilan keputusan Khamenei.
Selain itu, kepala staf angkatan bersenjata Iran, Mohammad Bagheri, juga menjadi korban dalam serangan tersebut. Israel bahkan mengklaim bahwa kepala staf perang Iran, Jenderal Ali Shadmani, turut tewas.
Jenderal Shadmani dianggap sebagai figur dekat Khamenei. Ia baru saja mengisi posisi tersebut setelah Letjen Gholam Ali Rashid terbunuh oleh serangan Israel pada akhir pekan lalu.
“Kehilangan penasihat utama menciptakan kekosongan besar di lingkaran dalam Khamenei dan meningkatkan risiko kesalahan perhitungan yang sangat berbahaya,” kata seorang sumber yang rutin mengikuti pertemuan pemimpin tertinggi Iran.
Sejak revolusi 1979, Khamenei menempatkan Garda Revolusi, yang bertanggung jawab langsung kepadanya, sebagai inti kekuasaan. Hilangnya tokoh-tokoh penting ini dapat memutus rantai komando khusus Garda dan mengancam aksesnya ke peralatan militer terbaik.
Meskipun kementerian pertahanan di bawah presiden mengelola angkatan bersenjata reguler, selama ini Garda Revolusi menjadi penopang utama keamanan internal dan kebijakan regional Iran.
“Menghadapi salah satu momen paling berbahaya dalam sejarah Republik Islam, Khamenei justru semakin tertekan,” ujar seorang analis.
Khamenei, memiliki kekuasaan untuk mendeklarasikan perang dan pengangkatan pejabat senior, dikenal sangat berhati-hati.
“Dua hal tentang Khamenei: ia sangat keras kepala tetapi juga sangat berhati-hati. Itulah yang membuatnya bertahan lama,” kata Alex Vatanka, direktur Program Iran di Middle East Institute, Washington.
Meskipun tokoh seperti Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga pernah menjadi sasaran, kehilangan penasihat seperti Salami dan Hajizadeh membuat Khamenei menghadapi tantangan paling serius sejak ia berkuasa pada 1989. Setiap langkah strategis Iran kini berpotensi terganggu oleh kekosongan di pucuk komando Garda.
Dengan negosiasi nuklir yang belum mencapai kata sepakat, krisis ini diprediksi akan mengubah dinamika kekuasaan di Tehran dan memperburuk ketegangan yang sudah tinggi antara Iran dan Israel.