Penurunan Ekspor Batu Bara Indonesia ke China dan India, Ini Penyebabnya
Jakarta – Volume ekspor batu bara Indonesia ke negara-negara seperti China dan India diperkirakan akan mengalami penurunan dalam beberapa tahun ke depan. Informasi ini muncul dalam laporan terbaru dari Energy Shift Institute (ESI) berjudul “Coal in Indonesia: Paradox of Strength and Uncertainty”.
Hazel Ilango, Principal sekaligus Pemimpin Studi Transisi Batu Bara Indonesia di ESI, menyatakan bahwa di masa depan akan terjadi perubahan struktural dalam permintaan batu bara dari Indonesia. Hal ini terkait dengan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Menurut penelitian dari EMBER, permintaan listrik baru di China terus meningkat, namun pertumbuhan pembangkit listrik berbasis batu bara mulai melambat sejak awal dekade 2010-an.
“Kami juga melihat perubahan struktural dalam permintaan. Berdasarkan riset EMBER, grafik di sebelah kiri menunjukkan bahwa di Tiongkok, permintaan listrik baru (garis hitam) terus meningkat, sedangkan pembangkit fosil (garis merah) mulai melandai sejak awal 2010-an,” ujarnya dalam peluncuran laporan The Energy Shift Institute “Coal in Indonesia: Paradox of Strength and Uncertainty”, dikutip Rabu (18/6/2025).
Di India, tren serupa juga mulai terlihat meskipun dengan laju yang lebih lambat. Sekitar dua pertiga pertumbuhan permintaan listrik di sana masih didukung oleh batu bara, namun pergeseran menuju energi bersih semakin jelas.
“Jika tren ini berlanjut, ekspor batu bara Indonesia mungkin akan stagnan atau bahkan menurun dalam jangka panjang,” ujarnya.
Selain itu, Presiden Xi Jinping baru-baru ini kembali menegaskan komitmennya terhadap target iklim 2035 dan penggunaan energi bersih. Pada 2024, energi bersih diproyeksikan memenuhi 81% dari pertumbuhan permintaan listrik di Tiongkok. Ketergantungan pada batu bara diperkirakan akan mencapai titik jenuh dan mulai menurun.
“Meskipun tidak akan ada penurunan permintaan yang mendadak, arah tren jangka panjangnya semakin jelas dan tidak bisa diabaikan oleh produsen batu bara Indonesia,” tambahnya.
Di sisi lain, kebijakan domestik juga memberikan tekanan pada sektor ini. Misalnya, peningkatan royalti, kewajiban hilirisasi batu bara, dan kewajiban pasar domestik (DMO). Meskipun setiap kebijakan ini memiliki tujuan yang baik, kombinasi kebijakan-kebijakan ini menciptakan trade-off nyata, mengurangi margin laba, mempersempit ruang keuangan, dan menurunkan insentif untuk diversifikasi atau transisi.
“Sebagian besar perusahaan batu bara Indonesia masih belum memiliki rencana transisi atau diversifikasi yang kredibel. Kurangnya komitmen nyata untuk beralih dari batu bara meningkatkan risiko transisi sektor ini. Ini akan menjadi fokus utama dari seri penelitian lanjutan kami,” kata Hazel.