Penyebab Investasi Rp 1.500 Triliun Gagal ke Indonesia, Raden Pardede: Premanisme!
Jakarta – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyatakan bahwa investasi senilai Rp 1.500 triliun tidak berhasil masuk ke Indonesia pada tahun 2024. Faktor yang mempengaruhi meliputi permasalahan dalam pelayanan perizinan, kemudahan berusaha, serta daya saing.
Ekonom senior sekaligus pendiri CReco Research Institute, Raden Pardede, mengungkapkan bahwa selain berbagai isu tersebut, premanisme oleh ormas juga menjadi penghambat investasi di tahun sebelumnya. Pemerintah akhirnya membentuk Satgas Operasi Penanganan Premanisme dan Ormas.
“Seperti yang kita ketahui, ada ormas yang bertindak berlebihan, hal itu merupakan gangguan terhadap kepastian berusaha,” ujar Raden dalam program Cuap Cuap Cuan PANGKEP NEWS, dikutip pada Kamis (3/7/2025).
“Jika ada ancaman seperti itu, dampaknya bisa dengan cepat menyebar. Menurut saya, hal itu tidak boleh terjadi karena menyangkut keselamatan,” tegasnya.
Masalah berikutnya, menurut Raden, adalah kebijakan perizinan yang sempat ditarik sepenuhnya oleh pemerintah pusat. Hal ini menghambat proses analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal berbasis risiko.
“Pertanyaannya adalah apakah pusat mampu menangani semua ini, termasuk tenaga analis amdal yang dibutuhkan untuk menangani ribuan kasus? Konsultan mana pun yang melakukan analisis amdal memerlukan waktu beberapa bulan, dan ini yang menyebabkan kemacetan,” jelas Raden.
Oleh karena itu, pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto telah menanggapi berbagai masalah yang menghambat investasi dengan membentuk berbagai satgas, selain Satgas Operasi Penanganan Premanisme dan Ormas. Untuk kebijakan deregulasi, Satgas Peningkatan Iklim Investasi dan Percepatan Perizinan Berusaha dibentuk.
“Kali ini, Satgas ini lebih lengkap, tidak hanya fokus pada regulasi, tetapi juga pada proses bisnisnya. Ada tempat pengaduan dan monitoring evaluasi. Semoga dalam 1-2 tahun ke depan, kita bisa melihat hasilnya, karena ini adalah perubahan pola pikir,” pungkasnya.