Jakarta –
Sepanjang paruh pertama 2025, pasar keuangan Indonesia mengalami volatilitas tinggi akibat tekanan dari sentimen global dan dalam negeri. Baik IHSG maupun Rupiah mengalami fluktuasi tajam akibat isu perang dagang, konflik Iran-Israel, serta tekanan daya beli dan perlambatan ekonomi nasional.
Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM), mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar ini menyebabkan aset berisiko tinggi seperti saham dan Rupiah mengalami pergerakan negatif, meskipun obligasi tetap menunjukkan kinerja positif berkat pergerakan yang cukup stabil.
Eri menambahkan bahwa kebijakan Presiden AS, Donald Trump, serta kebijakan pemerintahan baru Presiden Prabowo yang belum efektif meningkatkan pertumbuhan, memberikan tekanan besar pada pasar di awal 2025.
Kondisi ini turut mempengaruhi strategi investasi nasabah manajer investasi, di mana dana lebih banyak ditempatkan pada aset safe haven. Namun, di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap aset berisiko ternyata semakin menurun.
Bagaimana strategi pengelolaan dana besar menghadapi gejolak di semester pertama 2025? Simak dialog Safrina Nasution dengan Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM), dalam Power Lunch di PANGKEP NEWS pada Jumat, 04 Juli 2025.