Jakarta, PANGKEP NEWS
Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, menyatakan sikap terkait ancaman penambahan tarif sebesar 10% oleh Amerika Serikat kepada negara-negara BRICS. Ia menekankan bahwa pertemuan BRICS bukanlah sebuah upaya untuk menentang AS atau negara manapun.
Dalam sebuah pernyataan di media sosial Truth Social, Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menaikkan tarif dagang pada anggota BRICS sebesar 10%. Hal ini disampaikan Arrmanatha saat melepas keberangkatan Presiden Prabowo Subianto menuju Brasilia di Rio De Janeiro, Brasil, Senin (7/7/2025).
“Pertemuan BRICS ini tidak dimaksudkan untuk melawan Amerika atau negara lain,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa dalam pertemuan BRICS, tidak ada langkah untuk melawan negara atau kelompok negara manapun. Sebaliknya, isu-isu yang dibahas berfokus pada lingkungan hidup, kesehatan, situasi global, serta upaya memperkuat multilateralisme.
“Jadi, tidak ada isu yang bertentangan dengan kepentingan negara berkembang atau menentang negara lain,” tambahnya.
Pertemuan BRICS bertujuan untuk menyatukan negara-negara berkembang dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Tata, sapaan akrabnya, juga menegaskan bahwa ancaman yang dibuat Trump terhadap negara BRICS tidak dibahas dalam pertemuan tersebut.
“Tidak, karena isu seperti itu tidak dapat kami kontrol. Apa yang disampaikan Presiden Amerika atau kepala negara lainnya seringkali di luar kendali kita. Penting untuk menekankan bahwa banyak hal di luar sana tidak sesuai dengan apa yang dibahas dalam BRICS,” katanya.