ChatGPT Cenderung Membuat Cerita Sendiri, Penciptanya Heran Banyak yang Percaya
Jakarta, PANGKEP NEWS – Seiring berkembangnya kecerdasan buatan, banyak individu mulai menaruh keyakinan besar pada teknologi ini. Mereka bahkan menggunakannya tanpa memverifikasi informasi yang diberikan.
Namun, Sam Altman, CEO OpenAI, mengingatkan agar tidak sepenuhnya mempercayai ChatGPT. Chatbot yang terkenal ini diakuinya sering mengalami halusinasi dan tidak bisa dijadikan andalan.
“Masyarakat memiliki kepercayaan tinggi terhadap ChatGPT, yang menarik karena AI ini dapat berhalusinasi. Seharusnya, ini adalah teknologi yang tidak sepenuhnya Anda percayai,” kata Altman dalam sebuah podcast yang dikutip dari Mint, Selasa (8/7/2025).
Halusinasi pada chatbot AI mengacu pada kecenderungan teknologi tersebut untuk menciptakan cerita dengan percaya diri yang tinggi, yang disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor tersebut antara lain adalah data pelatihan chatbot yang bias, kurangnya pemahaman terhadap realitas dunia, tekanan untuk terus menghasilkan respons, dan pembuatan teks prediktif.
Dalam kesempatan yang sama, Altman juga menyebutkan bahwa anak-anaknya mungkin tidak lebih pintar dari AI. Namun, ia yakin mereka akan melampaui pencapaian orang tuanya di masa depan.
“Namun, mereka akan tumbuh jauh lebih cakap daripada kita dan mampu melakukan hal-hal yang saat ini tidak dapat kita bayangkan,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya iklan di ChatGPT, Altman berpendapat bahwa itu akan sulit diwujudkan.
Meski begitu, Altman tidak menentang ide tersebut. Bahkan, pria berusia 40 tahun itu memuji iklan yang ditampilkan oleh Instagram.
“Saya pikir iklan di Instagram cukup keren, dan saya telah membeli banyak barang dari sana. Namun, saya merasa akan sulit melakukannya dengan benar,” jelas Altman.
Dia menjelaskan bahwa iklan bisa diterapkan tanpa sepenuhnya mengganggu pengalaman pengguna. Namun, pembuktiannya memiliki tantangan yang sangat tinggi.
“Beban pembuktian harus sangat tinggi dan manfaatnya harus jelas bagi pengguna serta tidak mengacaukan model bahasa besar (LLM),” tambahnya.