Rekor Kredit Macet KPR Tertinggi dalam 4 Tahun, Bankir Angkat Bicara
Jakarta, PANGKEP NEWS – Masyarakat Indonesia semakin mengalami kesulitan dalam membayar cicilan rumah mereka. Ini tercermin dari kualitas kredit pemilikan rumah (KPR) yang semakin menurun, bahkan lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
Menurut Statistik Sistem Keuangan Indonesia Juni 2025 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), non performing loan (NPL) KPR mencapai 3,24%, melampaui angka akhir 2020 yang sebesar 2,78%. Rasio NPL pada bulan Mei juga adalah yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Para bankir mengakui kondisi ini. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), yang dikenal sebagai bank perumahan, merasakan perburukan kualitas KPR tersebut. Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan bahwa penurunan kualitas KPR juga terjadi di bank milik negara itu.
“Kondisi pasar terkait kualitas kredit ritel juga terjadi di BTN, khususnya mengenai NPL segmen KPR yang per Juni mencapai sekitar 3,21%,” ujar Setiyo saat dihubungi PANGKEP NEWS, Jumat (11/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa BTN telah mempelajari tren peningkatan NPL ini seiring dengan menurunnya kemampuan keuangan segmen menengah ke bawah. Setiyo melanjutkan bahwa hal ini juga terlihat pada statistik makro di mana terjadi pelemahan pertumbuhan PDB, peningkatan tren PHK, dan penurunan tingkat konsumsi.
Untuk menghadapi hal ini, BTN melakukan berbagai langkah mitigasi. Di antaranya adalah penyesuaian panduan portofolio dan kriteria penerimaan risiko yang lebih berhati-hati, memperkuat proses penjaminan dengan penggunaan teknologi seperti Gen AI, serta mendorong pertumbuhan di segmen berisiko lebih rendah seperti nasabah BTN yang sudah ada, nasabah payroll, dan sektor usaha yang masih sehat.
“Kami juga memperkuat tim back end yaitu pengumpulan dan pemulihan untuk segera memperbaiki tingkat tunggakan kolektibilitas 2 maupun NPL,” tambah Setiyo.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga mengakui adanya perburukan dalam portofolio kredit properti bank swasta terbesar di Indonesia itu. Executive Vice President Consumer Loan BCA, Welly Yandoko, mengatakan berdasarkan laporan analyst meeting, KPR BCA juga mengalami kenaikan NPL menjadi 1,54% per Maret 2025, naik sebesar 0,26% dibandingkan akhir tahun 2024 lalu.
“Melihat kondisi makroekonomi yang belum stabil, kemungkinan tren kenaikan ini akan terus berlanjut,” katanya saat dihubungi PANGKEP NEWS, Jumat (11/7/2025).
Namun, Welly menegaskan bahwa pihaknya tetap menargetkan agar tingkat NPL tetap terjaga dengan selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. Hal ini dilakukan dengan analisis mendalam terhadap calon debitur untuk memastikan kelancaran pembayaran, memperkuat sistem Know Your Customer, dan analisis terkait nilai dan area properti untuk memastikan jaminan dapat menutupi nilai kredit yang diberikan.
“Selain itu, kami juga disiplin melakukan pemantauan ketat terhadap kredit bermasalah dengan segera mengambil tindakan penyelesaian yang diperlukan bila kredit bermasalah sudah tidak dapat diselesaikan lagi,” jelas Welly.
Adapun kondisi perburukan NPL KPR sepanjang tahun 2025 berbanding terbalik dengan pertumbuhan KPR yang justru melandai. NPL KPR mencapai 3,24% per Mei 2025, memburuk dari bulan April yang sebesar 3,13% dan bulan Maret dan Februari yang sama-sama 2,99%. Pada Januari 2025, NPL KPR berada di posisi 2,88%.
Sementara itu, pada bulan Januari 2025, KPR tercatat tumbuh 11,51% secara tahunan atau year on year (yoy). Sebulan kemudian, KPR masih mampu tumbuh double digit, tapi melambat sedikit menjadi 11,49% yoy.
Pada bulan Maret, pertumbuhan KPR hanya single digit sebesar 9,28% yoy. Di bulan April, pertumbuhan KPR melambat lagi menjadi 8,67% yoy, dan pada bulan Mei menjadi 8,15%.
(fsd/fsd)