Jakarta – Dunia Memasuki Era Baru: Pertanian Jadi Fokus Utama
Para miliarder teknologi yang sebelumnya dikenal dengan inovasi di bidang metaverse dan kecerdasan buatan kini beralih ke sektor pertanian.
Langkah ini merupakan diversifikasi investasi yang juga mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap krisis pangan, perubahan iklim, dan kerentanan rantai pasok global. Meskipun teknologi sangat penting, namun pangan tetap menjadi kebutuhan esensial.
Bill Gates
Langkah yang diambil oleh Bill Gates sangat mencolok. Melalui Cascade Investment, pendiri Microsoft ini telah mengakuisisi lebih dari 242 ribu hingga 275 ribu acre tanah pertanian yang tersebar di sekitar 18 hingga 20 negara bagian di Amerika Serikat. Pada tahun 2023, ia bahkan membeli tanah tambahan seluas 2.100 hektar di North Dakota dengan nilai US$13,5 juta.
Walaupun Gates tidak terjun langsung ke lapangan, ia membangun ekosistem pertanian masa depan dengan mengembangkan bibit yang tahan terhadap iklim ekstrem, teknologi irigasi cerdas, dan sistem pertanian regeneratif. Dalam beberapa pernyataan publiknya, Gates mengatakan bahwa pangan akan menjadi tantangan terbesar dunia dalam menghadapi perubahan iklim, dan siapa yang menguasai pangan, akan menguasai stabilitas global.
Jeff Bezos
Jeff Bezos, sosok di balik kerajaan e-commerce dunia, mengikuti langkah serupa. Kini, Bezos memiliki sekitar 420 ribu acre lahan pertanian, kebanyakan berlokasi di Texas.
Melalui Bezos Earth Fund, ia menginvestasikan hingga US$10 miliar untuk proyek-proyek yang berfokus pada mitigasi perubahan iklim, termasuk pertanian regeneratif. Ia juga mendanai Plenty Unlimited, sebuah startup pertanian vertikal dengan valuasi mendekati US$1 miliar.
Bezos juga mengalokasikan dana untuk penelitian daging dan protein sintetis berbasis laboratorium, bahkan dilaporkan menyuntikkan US$60 juta ke sektor ini. Jika Amazon telah menguasai distribusi barang, Bezos tampaknya ingin memastikan bahwa rantai pasok pangan juga berada dalam kendalinya.
Jack Ma
Sementara itu, Jack Ma, pendiri Alibaba yang sempat menghilang dari publik, kembali muncul dengan fokus baru di bidang pertanian.
Ia mendirikan Digital Agriculture Base di Tiongkok dan memanfaatkan Alibaba Cloud untuk membantu petani menganalisis cuaca, tanah, dan pola tanam secara real-time. Ia juga menghubungkan petani kecil langsung ke pasar melalui platform e-commerce, mengurangi peran tengkulak, dan mendorong pertanian organik bernilai tinggi. Di Jepang, Ma sempat mengunjungi sekolah pertanian untuk mempelajari teknologi agrikultur baru.
Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg, melalui Chan Zuckerberg Initiative, memilih pendekatan berbeda. Ia tidak membeli lahan dalam jumlah besar, tetapi berinvestasi dalam penelitian bioteknologi tanaman dan pertanian presisi. Fokusnya adalah menciptakan pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan tahan terhadap iklim ekstrem. Di balik narasi filantropi, dia menyadari bahwa tanpa menguasai fondasi kehidupan, kekuatan digital yang dibangunnya pun akan rapuh.
Elon Musk
Bahkan Elon Musk, yang dikenal dengan misi kolonisasi Mars, turut serta dalam bidang pangan. SpaceX dan Tesla Energy mendanai penelitian pertanian berbasis ruang tertutup yang dapat mendukung kehidupan di luar angkasa. Panel surya Tesla juga dirancang untuk menyediakan daya bagi pertanian modern agar lebih hemat energi. Musk menyadari, jika manusia harus tinggal di planet lain, mereka harus terlebih dahulu menyelesaikan persoalan pangan.
Warren Buffett
Warren Buffett tidak ketinggalan. Melalui putranya, Howard Buffett, investor legendaris ini mendukung pertanian konservatif di Amerika Latin dan Afrika. Fokusnya pada regenerasi tanah yang mulai kehilangan kesuburan akibat eksploitasi berlebihan. Dalam skema ini, lahan bukan sekadar komoditas, tetapi aset strategis jangka panjang.
Apa yang Memotivasi Para Miliarder Digital Ini untuk Beralih ke Pertanian?
Jawabannya terletak pada kombinasi krisis pangan global dan kalkulasi bisnis visioner. Laporan dari FAO dan WFP mencatat bahwa 735 juta orang mengalami kelaparan kronis pada tahun 2023, meningkat tajam akibat pandemi, konflik Rusia-Ukraina, dan kelangkaan pupuk.
Perubahan iklim juga memperburuk degradasi tanah dan kelangkaan air. Dalam kondisi seperti ini, investasi pangan bukan hanya logis, tetapi vital. Harga lahan pertanian cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang, sementara permintaan pangan tidak pernah surut.
Para miliarder teknologi kini menyadari bahwa pangan adalah kebutuhan dasar yang tak tergantikan, dan lahan adalah sumber daya paling strategis. Sementara mereka memperkuat pijakan di sektor ini, Indonesia justru mulai kehilangan basis agrarisnya. Jika negeri ini ingin tidak hanya “modern secara citra”, tetapi juga mandiri secara pangan, saatnya serius merangkul teknologi ke dalam pertanian bukan sebaliknya.
PANGKEP NEWS Riset