Perkembangan Terbaru Perang Dagang Trump: Perubahan Tarif dan Respons Global
Jakarta – Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump kembali menggemparkan pasar perdagangan internasional. Menjelang batas waktu 1 Agustus 2025, beberapa negara mitra dagang utama seperti Indonesia, Filipina, Jepang, dan Uni Eropa sedang berlomba menyelesaikan negosiasi untuk menghindari tarif tinggi atas ekspor mereka ke AS.
Berikut adalah perkembangan terkini dari negosiasi perdagangan Presiden Donald Trump, sebagaimana dirangkum oleh PANGKEP NEWS dari berbagai sumber pada Rabu (23/7/2025).
1. Indonesia Dikenai Tarif Impor 19% oleh AS, Berlaku Agustus
Pemerintah memastikan bahwa tarif impor sebesar 19% untuk produk asal Indonesia yang dikenakan oleh AS adalah final. Ini adalah hasil dari negosiasi langsung antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
“Angka itu sudah final dan binding,” tegas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/7/2025).
Kebijakan ini dituangkan dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (RTA) yang dirilis Gedung Putih sehari setelahnya. Meskipun lebih rendah dari ancaman awal Trump yang mencapai 32%, tarif ini masih jauh di atas tarif dasar 10% yang berlaku umum.
Perjanjian ini juga mencakup komitmen Indonesia untuk membeli pesawat senilai US$3,2 miliar dan produk energi hingga US$15 miliar dari AS.
“Pengumuman ini menunjukkan bahwa Amerika dapat mempertahankan produksi domestiknya sambil memperluas akses ke pasar global,” ujar Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.
Nilai perdagangan Indonesia-AS mencapai US$38 miliar sepanjang 2024, dengan AS mencatatkan defisit sebesar US$17,9 miliar.
2. Filipina Juga Dikenai Tarif 19%
Trump juga memberlakukan tarif 19% atas barang-barang dari Filipina. Pengumuman ini disampaikan setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina di Gedung Putih, Selasa (22/7/2025).
“Ini adalah kunjungan yang luar biasa, dan kami telah menyelesaikan kesepakatan perdagangan kami,” tulis Trump lewat akun X.
Trump mengklaim kesepakatan ini mencakup penghapusan tarif untuk barang AS dan peningkatan kerja sama militer. Meski sempat mengancam tarif hingga 20%, kesepakatan final ditutup di angka 19%.
Filipina mencatat ekspor senilai US$14,2 miliar ke AS pada 2024, dengan komoditas utama seperti suku cadang mobil, tekstil, dan minyak kelapa.
3. Tarif untuk Jepang Diturunkan Menjadi 15%, tapi…
Trump mengumumkan tarif timbal balik sebesar 15% untuk barang dari Jepang, setelah ancaman tarif 25% gagal diterapkan.
“Kami baru saja menyelesaikan kesepakatan besar dengan Jepang, mungkin yang terbesar yang pernah dibuat,” klaim Trump melalui Truth Social.
Sebagai imbalan, Jepang disebut akan menanamkan investasi hingga US$550 miliar ke ekonomi AS. Trump mengklaim AS akan mendapatkan “90% dari keuntungannya,” tanpa merinci struktur investasinya.
Kesepakatan ini mencakup akses lebih luas bagi produk AS ke pasar Jepang, termasuk mobil, truk, beras, dan produk pertanian lainnya. “Kesepakatan ini akan menciptakan ratusan ribu lapangan pekerjaan,” ujar Trump.
4. Korea Selatan Siap Bernegosiasi, Pantau Risiko Tarif Balasan
Setelah kesepakatan AS-Jepang diumumkan, Korea Selatan menyatakan kewaspadaannya. Pemerintah Seoul kini bersiap menegosiasikan paket dagang baru agar tidak kalah bersaing.
“Karena hasil ini dapat berdampak signifikan terhadap ekonomi, Korea Selatan akan merespons secara menyeluruh,” kata Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan, Rabu (23/7/2025).
Sejumlah analis menilai Korea harus meraih kesepakatan yang minimal setara dengan Jepang. “Kesepakatan Jepang menjadi tolok ukur bagi Korea,” ujar Kim Sung-rae dari Hanwha Investment & Securities.
Saham produsen otomotif melonjak sebagai reaksi pasar: Hyundai Motor naik 7,3% dan Kia 7,6%. Delegasi Korea dijadwalkan terbang ke Washington pada Jumat untuk memulai perundingan intensif.
Presiden Lee Jae-myung menegaskan Korea tidak akan membuka semua sektor. Sektor pertanian seperti beras dan daging sapi tidak akan masuk daftar negosiasi, namun Seoul membuka peluang menambah impor jagung untuk bioetanol sebagai bentuk kompromi.
5. Trump Menargetkan Eropa, Kanada Siap Merespons
Trump juga mengalihkan perhatian ke Uni Eropa. Jika negosiasi gagal sebelum 1 Agustus, AS akan memberlakukan tarif hingga 30% atas produk dari Benua Biru. Uni Eropa sudah menyiapkan balasan senilai US$22,8 miliar yang bisa diterapkan mulai 6 Agustus.
Dari Kanada, Perdana Menteri Mark Carney menyatakan bahwa negaranya tidak akan menerima kesepakatan yang buruk hanya demi mengejar tenggat.
“Negosiasinya rumit. Tujuan Amerika berubah-ubah… tapi Kanada tidak akan menyerah,” ujar Carney.
AS menetapkan tarif 35% terhadap produk Kanada mulai 1 Agustus, naik dari tarif sebelumnya sebesar 25%.
6. Menkeu AS: Tarif Tinggi sebagai Alat Tekan
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa tarif tinggi akan menjadi alat negosiasi strategis.
“Saya pikir tarif yang lebih tinggi akan memberi tekanan lebih besar pada negara-negara tersebut untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan PANGKEP NEWS.
Meski terbuka untuk melanjutkan negosiasi pasca-tarif, Bessent menegaskan bahwa AS tidak akan tergesa-gesa demi kompromi.
Pemerintahan Trump berencana menerapkan tarif hingga 40% terhadap negara yang gagal mencapai kesepakatan. Strategi ini dinilai dapat mengguncang perdagangan global sekaligus membawa risiko ke ekonomi AS sendiri.