Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia
Unit Bareskrim Kepolisian Republik Indonesia sedang melanjutkan investigasi atas dugaan perdagangan beras premium yang tidak memenuhi standar mutu. Investigasi ini dimulai berdasarkan survei lapangan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan lembaga terkait lainnya, yang menemukan adanya 212 merek beras yang beredar tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Empat perusahaan telah terlibat dalam kasus ini, yaitu PT FS, PT PIM, Toko SJ, dan PT SR. Kepolisian telah menetapkan tiga tersangka dari PT FS dan sedang mempercepat penyelidikan terhadap tiga perusahaan lainnya.
Di tengah proses hukum yang berjalan, pedagang beras di pasar tradisional justru menyambut baik langkah pemerintah dan kepolisian tersebut. Hal ini ternyata membawa keuntungan tersendiri bagi sejumlah pedagang beras di pasar tradisional.
Alih-alih merasa dirugikan, pedagang beras melaporkan peningkatan penjualan karena masyarakat kini lebih memilih membeli langsung di pasar dibandingkan dengan ritel modern.
Menurut pantauan PANGKEP NEWS Indonesia di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, pada Senin (4/8/2025), terlihat bahwa pembeli di lapak-lapak beras tradisional semakin ramai. Konsumen mulai beralih dari beras kemasan bermerek yang biasa mereka beli di ritel modern, ke beras yang dijual di pasar tradisional, dengan tujuan memastikan langsung kualitas barang yang dibeli.
“Saya merasa diuntungkan. Konsumen yang biasanya membeli beras merek Sania, yang dimiliki oleh Wilmar, atau merek-merek lainnya yang kemarin terlibat kasus, sekarang beralih ke pedagang beras tradisional seperti saya di pasar,” ujar Yanto, seorang pedagang beras di Pasar Rumput.
Menurutnya, pembeli kini lebih berhati-hati dan memilih memeriksa kualitas beras sebelum membayar. “Jika mereka membeli di sini, mereka bisa melihat langsung apakah berasnya bagus atau tidak. Berbeda dengan membeli beras merek-merek tersebut yang seperti membeli kucing dalam karung… beras dalam karung, hahaha,” ujarnya sambil tertawa.
Kasus pemalsuan beras yang disebut Yanto sebelumnya memang menarik perhatian publik. Ia menjelaskan, masalah terbesar bukan hanya pada praktik pencampuran beras (oplosan), tetapi juga pemalsuan kelas beras, yang seharusnya dijual sebagai medium tetapi dilabeli sebagai premium.
“Yang paling parah adalah pemalsuan. Kasusnya kemarin adalah pemalsuan. Jika oplos dicampur, itu memang sudah biasa, tetapi jika dipalsukan, yang seharusnya medium dijual sebagai premium, itu yang parah,” tegasnya.
Yanto mengungkapkan, pada musim panen Juli lalu, banyak beras kualitas medium dengan fisik yang bagus. Oknum tertentu memanfaatkan situasi ini dengan menjualnya sebagai beras premium.
“Saya tahu bahwa pada panen bulan Juli kemarin, beras mediumnya bagus-bagus. Nah, itu dimanfaatkan oleh oknum yang menjualnya seolah-olah premium, karena bentuk berasnya bagus. Namun, medium dan premium itu berbeda, terlihat, terutama setelah dimasak,” katanya.
Yanto menjelaskan bahwa perbedaan antara keduanya sangat jelas terlihat saat beras sudah dimasak. “Jika sudah menjadi nasi, terlihat mana yang premium dan mana yang medium. Medium itu berair, mudah basi, warnanya kuning. Sedangkan premium tidak, meskipun dibiarkan seharian, nasinya masih bagus,” jelasnya.
Dari sisi harga, Yanto menyebut belum ada perubahan. “Beras premium stabil, tidak ada kenaikan atau penurunan harga. Harga panen kemarin sudah di kisaran Rp15.000-Rp17.000 per liter, berarti jika per kilogramnya Rp17.000-Rp19.000,” ujarnya.
“Saya tidak tahu mengapa harganya tetap segitu. Padahal kemarin panen, harusnya bisa lebih murah,” tambahnya.
Sementara itu, harga beras medium di lapaknya dijual mulai dari Rp13.000-Rp16.000 per liter, atau setara dengan Rp15.000-Rp16.000 per kg.
Rahmat, pedagang lainnya di pasar yang sama, menyampaikan hal serupa.
“Masih sama seperti kemarin-kemarin, Rp14.000 per kg untuk yang medium. Kalau yang premium Rp16.000-Rp18.000 per kg,” ujarnya.
Menurut Rahmat, kasus pemalsuan tersebut tidak berdampak negatif bagi pedagang tradisional. Justru banyak konsumen baru yang kini lebih memilih datang langsung ke pasar.
“Tidak berdampak buruk, karena kami membeli dalam karungan besar, 50 kg. Malah saya jadi untung sekarang, banyak konsumen yang sebelumnya membeli beras karungan di ritel sekarang datang ke saya. Mereka bisa memeriksa berasnya langsung,” tuturnya.