Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,12% di Kuartal II-2025, Mengejutkan Semua Pihak!
Jakarta – Publik dikejutkan dengan pengumuman dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai 5,12%, Selasa (5/8/2025).
Para ekonom serempak mengatakan bahwa angka tersebut melebihi perkiraan dan ada yang merasa aneh.
David Sumual, Kepala Ekonom BCA, mengakui keterkejutannya dengan angka tersebut. Prediksi awalnya hanya berada di kisaran 4,69%-4,81% karena tekanan pada indikator belanja masyarakat dan sektor manufaktur yang masih terasa besar.
“Sangat mengejutkan, tidak ada yang menyangka bisa di atas 5%, apalagi 5,12%,” ujar David kepada PANGKEP NEWS, Selasa (5/8/2025).
Menurut David, komponen Produk Domestik Bruto (PDB) yang mendorong pertumbuhan hingga 5,12% yoy termasuk pertumbuhan investasi yang mencapai 6,99%, tertinggi sejak kuartal II-2021.
“Investasi berkembang sangat pesat. Pertumbuhan kuartal I juga mengalami banyak revisi dan investasi memang diprediksi meningkat, namun tidak setajam angka dari BPS,” tambahnya.
Ia juga mempertanyakan lonjakan pertumbuhan sektor manufaktur yang dilaporkan BPS mencapai 5,68% pada kuartal II-2025, sementara biasanya bergerak di sekitar 4% sejak kuartal II-2022.
Faisal Rachman, Head of Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank, juga terkejut dengan angka tersebut. Ia menyatakan bahwa PDB Indonesia mengalami akselerasi signifikan yang melampaui ekspektasi pasar.
“Ekonomi Indonesia tumbuh lebih kuat dari perkiraan dengan angka 5,12% yoy pada Triwulan II 2025, jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan di bawah 5%,” kata Faisal.
Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon, juga tidak menyangka dengan realisasi investasi kuartal II-2025. Menurutnya, meskipun kinerja PMTB tumbuh pesat, seharusnya tidak banyak mendorong ekonomi karena hanya mencakup belanja modal pemerintah berupa mesin dan impor barang modal.
“Cenderung tidak banyak berimbas ke domestik pada semester I-2025 ini,” kata Hosianna.
Myrdal Gunarto, Ekonom Maybank Indonesia, mengungkapkan keterkejutannya dengan angka dari BPS ini. Dia menambahkan bahwa tidak ada proyeksi pasar yang menyebutkan ekonomi pada kuartal II-2025 bisa melampaui 5%.
“Sangat mengejutkan, karena ekspektasi kami di bawah 5%,” ungkap Myrdal.
Dugaan Ketidakcocokan
Sejumlah ekonom dari lembaga think tank merasa ada ketidakcocokan dari data ekonomi kuartal II-2025. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur tampak tidak selaras dengan data PMI Manufaktur yang menunjukkan zona pesimis.
Data S&P Global menunjukkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat di angka 49,2, berada di zona kontraksi. Ini merupakan bulan keempat berturut-turut PMI berada di bawah ambang ekspansi (50,0), menunjukkan pelemahan konsisten dalam aktivitas manufaktur nasional.
Sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia berada di level 46,7 pada April, 47,4 pada Mei, dan 46,9 pada Juni 2025. Meskipun angka Juli menunjukkan sedikit perbaikan, posisi yang tetap di bawah 50 menandakan bahwa industri masih menghadapi tekanan, terutama dari sisi permintaan dan produksi.
“Pertumbuhan sektor pengolahan tidak selaras dengan data PMI Manufaktur. Ada yang tidak cocok,” jelas Bhima.
M. Rizal Taufikurahman, Head of Center Macroeconomics and Finance INDEF, menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12% (yoy) pada kuartal II 2025 harus diperhatikan lebih kritis.
Ia menyebut bahwa angka ini memang di luar ekspektasi karena berada di kisaran 4,7-5,0%. Angka ini bahkan lebih tinggi dari periode dengan dorongan faktor musiman seperti kuartal I-2025 yang mencapai 4,87%.
“Sangat mengejutkan, di luar ekspektasi,” tegas Rizal.
Namun, Rizal mengingatkan bahwa dalam konteks historis, capaian ini masih mencerminkan pola pertumbuhan yang stagnan sejak pasca-pandemi.
“Artinya, kita tidak menyaksikan lonjakan pertumbuhan struktural, melainkan pengulangan siklus musiman yang seringkali terdorong oleh momen Lebaran dan pola konsumsi jangka pendek, tanpa transformasi signifikan di sisi produktif,” jelasnya.
“Ini menandakan bahwa struktur ekonomi nasional belum sepenuhnya pulih dalam kualitas, meskipun terlihat stabil dalam kuantitas,” tambah Rizal.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan berasal dari lonjakan impor (11,65%), konsumsi rumah tangga, dan PMTB (investasi tetap bruto), bukan dari peningkatan ekspor bersih atau efisiensi belanja pemerintah di mana konsumsi pemerintah justru tumbuh negatif (-0,33%).
“Ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih menjadi pendorong utama, sementara sisi produksi dan ekspor belum cukup kuat menopang pertumbuhan jangka menengah,” jelas Rizal.
Ketergantungan pada sektor konsumsi dan importasi bahkan dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan tekanan terhadap neraca pembayaran jika tidak dibarengi dengan penguatan sektor tradable.
Dengan kata lain, ia melihat pertumbuhan kuartal II-2025 lebih mencerminkan stabilitas struktural ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, meskipun masih bergantung pada faktor musiman dan permintaan domestik,
Meskipun Rizal menganggap angka ini belum menunjukkan pergeseran strategis menuju industrialisasi dan produktivitas sektor riil. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12% memang cukup impresif secara headline, tetapi belum menjawab tantangan struktural ekonomi Indonesia.
“Ketergantungan pada konsumsi dan investasi tanpa dukungan kuat dari sektor produksi dan ekspor membuat capaian pertumbuhan rawan tidak berkelanjutan,” tegas Rizal.