Harga Emas Diperkirakan Terus Meningkat
Jakarta, PANGKEP NEWS – Sepanjang tahun ini, harga emas terus menunjukkan kenaikan yang signifikan, dengan proyeksi akan mencapai US$3.675 atau sekitar Rp60,25 juta (kurs Rp16.387) per troy oz pada akhir tahun ini. Prediksi ini disampaikan oleh J.P. Morgan Research, setelah mencatat kenaikan harga emas sebesar 30% sejak awal tahun.
Pada bulan April lalu, harga emas telah mencapai puncaknya di angka US$3.500 atau sekitar Rp57,35 juta, melampaui proyeksi sebelumnya dari J.P. Morgan Research.
Ketidakpastian kebijakan dan risiko geopolitik saat ini sedang dipertimbangkan oleh pasar, namun J.P. Morgan Research yakin harga emas bisa mencapai US$4.000 atau Rp65,58 juta per troy oz mendekati kuartal kedua tahun 2026. Hal ini didorong oleh perubahan struktural dalam permintaan emas serta faktor pendorong harga lainnya.
Di akhir tahun depan, diprediksi harga logam mulia ini dapat menembus US$ 4.250 per troy oz.
“Terutama dengan kemungkinan resesi yang ada serta risiko perdagangan dan tarif yang berkelanjutan. Kami tetap yakin terhadap prospek penguatan struktural emas yang berkelanjutan dan telah menyesuaikan target harga kami,” ujar Kepala Strategi Komoditas Global di J.P. Morgan, Natasha Kaneva, dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (5/8/2025).
Tahun 2024, logam mulia ini telah melampaui beberapa rekor tertinggi dan menembus batas US$2.900/troy oz untuk pertama kalinya pada Februari tahun ini. Hal ini terjadi ketika investor menghadapi volatilitas pasar akibat kebijakan tarif AS dan meningkatnya risiko geopolitik.
Tertinggi harga dicapai di US$3.500/oz pada bulan April, di tengah kebijakan perdagangan AS yang tidak dapat diprediksi.
Sebagai safe haven, melemahnya dolar AS dan suku bunga AS yang lebih rendah secara tradisional meningkatkan daya tarik emas batangan. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik juga menjadi pendorong positif bagi emas, mempertahankan statusnya sebagai pelindung nilai yang andal.
Emas memiliki korelasi rendah dengan kelas aset lainnya, sehingga dapat berfungsi sebagai asuransi selama pasar jatuh dan masa-masa tekanan geopolitik.
Namun, dengan beragamnya dan likuidnya pendorong permintaan emas saat ini, logam mulia ini berfungsi baik sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai tukar atau hilangnya daya beli mata uang akibat inflasi atau penurunan nilai tukar. Selain itu, emas memiliki peran tradisional sebagai pesaing non-imbal hasil bagi obligasi pemerintah AS dan reksa dana pasar uang.
“Kami masih berpendapat risiko cenderung lebih tinggi dari perkiraan kami jika permintaan terus melampaui ekspektasi kami. Bagi investor, kami berpendapat emas tetap menjadi salah satu lindung nilai paling optimal untuk kombinasi unik stagflasi, resesi, penurunan nilai tukar, dan risiko kebijakan AS yang dihadapi pasar pada tahun 2025 dan 2026,” ujar Kepala Strategi Logam Dasar dan Mulia di J.P. Morgan, Gregory Shearer.