Fenomena Rojali dan Rohana di Indonesia, Apa dan Siapa Mereka?
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Fenomena yang dikenal sebagai Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya) menarik perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah dan para pelaku usaha.
Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), menyatakan bahwa fenomena ‘rojali’ semakin merata. Meskipun jumlah pengunjung mal terus meningkat, terdapat perubahan signifikan pada pola belanja masyarakat.
“Jumlah kunjungan ke mal terus bertambah, masyarakat tetap mengunjungi mal, namun terjadi perubahan dalam pola belanja. Khususnya, kelas menengah ke bawah masih belum pulih daya belinya, mereka cenderung membeli produk dengan harga satuan yang lebih kecil, tetapi tetap datang ke mal,” ujar Alphonzus kepada PANGKEP NEWS beberapa waktu lalu.
Alphonzus juga menuturkan bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen saat ini. Untuk kelas menengah atas, faktor kehati-hatian dalam berbelanja menjadi alasan utama, terutama karena kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak.
Chairul Tanjung, Founder & Chairman CT Corp, yang akrab disapa CT, mengungkapkan bahwa fenomena ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ terjadi karena daya beli masyarakat Indonesia yang sedang melemah.
“Fenomena Rojali dan Rohana ini memang terjadi karena daya beli masyarakat kita yang menurun, terutama karena kelas menengah kita yang juga menurun,” tegas CT.
CT juga memaparkan data bahwa hampir 10 juta orang dari kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan status ekonomi. “Berdasarkan data statistik hingga akhir tahun lalu, hampir 10 juta kelas menengah mengalami penurunan status,” jelasnya.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah tingginya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tingginya angka PHK ini berimbas pada penurunan daya beli masyarakat.
“Kita juga tahu bahwa PHK terjadi di banyak tempat, sehingga berdampak pada daya beli,” tambahnya.