Jakarta, PANGKEP NEWS
Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang berada di persimpangan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yakni Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
Salah satu area yang paling kritis adalah wilayah pesisir selatan Jawa. Namun, catatan sejarah mengenai peristiwa tsunami di daerah ini masih sangat terbatas.
Purna Sulastya Putra, seorang Peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam pernyataan tertulisnya pada Minggu (10/8/2025), menyatakan, “Artinya, kita mungkin saja mengabaikan ancaman besar yang pernah terjadi di masa lalu, seperti yang kita lihat pada kasus tsunami besar Aceh 2004.”
Untuk mengisi kekosongan pengetahuan ini, tim BRIN melakukan riset paleotsunami, yaitu kajian ilmiah untuk mendeteksi jejak tsunami kuno berdasarkan data geologi melalui lapisan sedimen yang tersimpan di tanah dan batuan. Penelitian ini memungkinkan tim untuk memetakan peristiwa tsunami yang terjadi bahkan ribuan tahun lalu.
Survei lapangan yang dilakukan sejak 2006 hingga 2024 mencatat adanya lapisan endapan tsunami kuno, salah satunya diperkirakan berasal dari kejadian tsunami sekitar 1.800 tahun yang lalu. Endapan tersebut ditemukan di wilayah selatan Jawa, seperti Lebak, Pangandaran, Kulon Progo, hingga Pacitan.
Temuan endapan tsunami dengan usia yang sama di berbagai lokasi sepanjang selatan Jawa menunjukkan bahwa peristiwa tersebut sangat besar (tsunami raksasa), kemungkinan diakibatkan oleh gempa megathrust bermagnitudo 9 atau lebih, seperti yang terjadi pada tsunami Aceh 2004.
Pada Mei 2025, BRIN melanjutkan survei di wilayah selatan Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul, dengan fokus mencari jejak tsunami yang lebih muda usianya, karena secara hipotesis perulangan gempa besar dengan magnitudo >9.0 di selatan Jawa adalah sekitar 675 tahun sekali.
Purna menjelaskan, “Metode yang digunakan adalah pemboran tangan, trenching atau pembuatan kolam paritan, dan pemetaan LiDAR.”
“Ekspedisi kali ini fokus mencari jejak paleotsunami yang lebih muda dari sekitar 1.800 tahun lalu, agar kami bisa merekonstruksi berapa kali tsunami raksasa akibat gempa megathrust bermagnitudo lebih dari 9 pernah terjadi di selatan Jawa,” tambah Purna.
Hasil trenching di Kulon Progo membuahkan hasil berupa ditemukannya tiga lapisan pasir yang diduga kuat sebagai endapan tsunami kuno. Lapisan tersebut mengandung foraminifera laut dan memiliki struktur khas akibat hempasan gelombang besar.
Purna menyatakan bahwa salah satu lapisan yang ditemukan diduga berasal dari kejadian tsunami sekitar 1.800 tahun lalu. Ia juga menambahkan bahwa terdapat lapisan lain yang usianya lebih muda, mengindikasikan bahwa tsunami besar kemungkinan telah berulang kali terjadi di wilayah tersebut.
Saat ini, proses analisis terhadap sampel-sampel sedimen tersebut masih berlangsung. Sampel dengan analisis radiocarbon dating sedang dikirim ke laboratorium luar negeri untuk mengetahui waktu kejadian tsunami kuno.
Purna menegaskan, “Temuan paleotsunami ini bukan sekadar catatan akademik. Data ini sangat penting untuk menyusun zonasi wilayah rawan bencana, mempertimbangkan tata ruang dan pembangunan wilayah pesisir, serta meningkatkan kesadaran publik termasuk simulasi evakuasi tsunami (tsunami drill), khususnya di kawasan wisata pantai.”
Dirinya berharap, temuan ini menjadi bagian dari pengambilan kebijakan berbasis data ilmiah. Sehingga, mitigasi bencana dapat dilakukan secara lebih tepat, efektif, dan komprehensif.
Di Kulon Progo, lokasi temuan ini berjarak sekitar 3 Km sebelah timur dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Sedangkan bandara ini lebih dekat ke pantai, berjarak sekitar 300 meter, namun tidak memiliki fasilitas penahan tsunami yang memadai.
Bandara Sendai di Jepang, meskipun berada satu kilometer dari pantai dan dilengkapi tanggul serta hutan buatan, tetap terdampak parah oleh tsunami besar Tohoku tahun 2011.
Seiring hadirnya bandara, kawasan sekitarnya berkembang pesat dengan munculnya berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, dan destinasi wisata baru. Peningkatan aktivitas ini, meskipun memberikan dampak positif dari sisi ekonomi, juga menambah kerentanan wilayah terhadap potensi bencana.
Purna menyatakan, “Perkembangan yang berlangsung tanpa memperhitungkan risiko kebencanaan dapat memperbesar dampak jika terjadi peristiwa ekstrem seperti tsunami.”
Melalui kajian kebencanaan seperti ini, BRIN terus mendorong agar sains menjadi bagian tak terpisahkan dari proses perencanaan dan pembangunan, khususnya di wilayah rawan bencana. Dengan kolaborasi antar pemangku kepentingan, hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, melainkan menjadi pijakan nyata dalam mewujudkan pembangunan yang adaptif, aman, dan berkelanjutan.
Setiap pembangunan yang dilakukan tentu memiliki manfaat yang besar. Namun, dalam konteks wilayah rawan bencana, penting bagi semua pihak untuk membangun dengan kesadaran risiko dan berpijak pada data ilmiah. Di sinilah peran riset kebencanaan BRIN hadir. Riset paleotsunami menunjukkan bahwa masa lalu menyimpan pelajaran penting untuk menata masa depan yang lebih aman.
Terlebih, sebagai negara yang berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, Indonesia secara geologis dikenal sebagai wilayah yang rentan terhadap bencana, termasuk gempa bumi dan tsunami. Salah satu kawasan yang menyimpan potensi tersebut adalah pesisir selatan Jawa, yang kini berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi dan infrastruktur strategis.
Purna menutup dengan mengatakan, “Dengan pesatnya pembangunan di wilayah ini, riset kebencanaan geologi menjadi semakin penting untuk memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko. Salah satunya adalah melalui kajian paleotsunami.”