Penyebab Retakan di Tanjakan Trangkil Menurut Dinas ESDM Jateng: Ada 2 Jalur Patahan Aktif
SEMARANG – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memastikan bahwa retaknya badan jalan di Tanjakan Trangkil, Kota Semarang, disebabkan oleh keberadaan sesar aktif yang melintasi area tersebut.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jateng, Heru Sugiharto, menyampaikan bahwa retakan pada jalan hingga munculnya material beton yang menyembul merupakan indikasi kuat adanya aktivitas geologi yang serius.
“Di lokasi Tanjakan Trangkil terdapat dua jalur patahan aktif. Di sana juga terdapat Perumahan Trangkil Sejahtera yang sudah kami kaji sebelumnya,” ujar Heru kepada PANGKEP NEWS, Kamis (17/4).
Patahan di Trangkil merupakan bagian dari tiga sesar mayor yang tersebar di wilayah selatan Kota Semarang. Sesar pertama melintasi kawasan barat, meliputi Kalialang, Green Wood, dan Bukit Manyaran Permai, yang memanjang ke arah Goa Kreo dan wilayah Sadeng.
“Di lokasi ini sudah menunjukkan dampak signifikan. Sejumlah rumah sudah mengalami kerusakan berat dan tidak bisa ditempati lagi,” tambahnya.
Sesar kedua melintasi langsung di kawasan Tanjakan Trangkil, lokasi retakan jalan yang kini jadi perhatian publik. Sesar ketiga berada di timur laut Semarang, meliputi Bendan Duwur hingga kawasan Hutan Tinjomoyo.
Heru menekankan bahwa kerusakan infrastruktur di area tersebut diperparah oleh pembangunan yang tidak diawali dengan konsultasi geologi. “Ini sudah parah karena saat pengembang membangun, tidak berkonsultasi dengan kami. Padahal, wilayah tersebut berada di jalur patahan aktif,” jelasnya.
Secara geologis, Kota Semarang dipengaruhi oleh dua mega sesar utama, yakni Sesar Kaligarang dan Sesar Baribis. Kedua sesar ini memengaruhi aktivitas patahan-patahan mayor dan minor di sekitarnya, termasuk dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik antara Asia dan Indo-Australia.