Gambaran Serangan Terbaru AS di Pelabuhan Yaman, 80 Tewas

Setidaknya 80 orang dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat di pelabuhan bahan bakar Ras Issa di Yaman, sebagaimana dinyatakan oleh kelompok pemberontak Houthi pada hari Jumat (18/4). Serangan yang terjadi pada hari Kamis itu menjadi salah satu yang paling mematikan dalam rangkaian kampanye AS selama 15 bulan terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut.

Dikutip dari laporan AFP pada Sabtu (19/4/2025), pihak militer AS menyebutkan bahwa tujuan dari serangan di Ras Issa adalah untuk memutus jalur pasokan dan pendanaan bagi pemberontak Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk negara termiskin di Jazirah Arab.

Saluran televisi Houthi menayangkan visual dari api besar yang melahap sebuah truk pengangkut bahan bakar, menunjukkan betapa dahsyatnya serangan tersebut. Ini merupakan bagian dari serangkaian serangan yang semakin intensif di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

TV Al-Masirah, milik pemberontak, melaporkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 80 orang dengan 150 lainnya mengalami luka-luka. Setelah serangan tersebut, Houthi mengumumkan peluncuran rudal ke arah Israel dan dua kapal induk AS. Militer Israel menyatakan telah berhasil mencegat rudal-rudal yang ditembakkan dari Yaman.

Pada Jumat malam, media Houthi juga melaporkan serangan tambahan di sekitar ibukota Sanaa. Juru bicara Kementerian Kesehatan Houthi, Anees Alasbahi, menyatakan bahwa tim penyelamat masih mencari jenazah di terminal bahan bakar di Laut Merah. Dia memperingatkan bahwa jumlah korban bisa terus bertambah.

Gambar yang beredar menunjukkan kendaraan-kendaraan yang hangus setelah serangan tersebut, yang disebut Al Masirah TV sebagai serangan AS di pelabuhan bahan bakar Ras Issa, Al Jazirah, Yaman.

Selain itu, terlihat juga kubangan besar sebagai akibat dari dahsyatnya serangan udara AS. Kubangan tersebut menggambarkan dampak langsung dari ledakan, dengan tanah yang terbelah dan puing-puing berserakan di sekitarnya sebagai saksi bisu dari kehancuran yang terjadi.