Rahasia Makanan Konklaf Terungkap, Larangan Ayam Panggang – Ini Sebabnya
Jakarta – Selama lebih dari 750 tahun, satu rahasia selalu dijaga ketat dalam Kapel Sistina setiap kali Gereja Katolik memilih Paus baru, yaitu mengenai makanan para kardinal.
Ternyata, makanan bukan hanya urusan kenyang. Sejak abad ke-13, ada aturan ketat tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi selama konklaf. Semua ini bertujuan mencegah pesan tersembunyi yang bisa diselundupkan melalui ayam panggang, ravioli, atau bahkan serbet makan.
Jika minggu lalu para pelancong di Roma melihat pemandangan unik di mana para kardinal mengunjungi restoran favorit mereka, tepat sebelum konklaf dimulai, banyak dari mereka menikmati makan malam terakhir sebagai ‘orang biasa’ sebelum memasuki masa isolasi total. Media Italia pernah mengungkapkan bahwa pada konklaf 2013, Kardinal Donald Wuerl menyukai lasagna di Al Passetto di Borgo, restoran dekat Basilika Santo Petrus. Kardinal Francesco Coccopalmerio lebih memilih cumi panggang.
Makan di Bawah Pengawasan Ketat
Konklaf adalah momen sakral di dalam Gereja Katolik, ketika 133 kardinal berkumpul dan mengunci diri di Kapel Sistina, tanpa kontak dengan dunia luar. Aktivitas mereka, termasuk makan, tidur, dan memilih Paus, berlangsung dalam isolasi total. Hanya satu ‘kode’ yang diizinkan keluar, yaitu asap putih yang menandakan Paus telah terpilih, sementara asap hitam berarti pemungutan suara harus diulang.
Sejak dulu, makanan dianggap sebagai celah paling rawan. Bayangkan saja, bagaimana jika ravioli disisipkan secarik pesan rahasia? Atau serbet makan dijadikan alat komunikasi?
Oleh karena itu, ada protokol makan yang sangat ketat yang berlaku hingga hari ini. Sejak Konklaf Lyon 1274, Paus Gregorius X memutuskan para kardinal harus diisolasi sepenuhnya. Jika dalam tiga hari belum ada hasil, jatah makan dikurangi menjadi sekali sehari. Jika sudah melewati delapan hari, hanya roti dan air yang disediakan.
Di masa Renaisans, Paus Clement VI sedikit ‘melunak’, mengizinkan tiga jenis makanan sehari: sup, hidangan utama (ikan, daging, atau telur), dan buah atau keju. Namun, pengawasan makanan tetap super ketat.
Bartolomeo Scappi, koki legendaris masa itu, bahkan mendokumentasikan detailnya dalam buku masaknya, Opera Dell’Arte del Cucinare (1570). Dia menjelaskan bagaimana makanan untuk konklaf disiapkan di dapur umum, diawasi ketat oleh penjaga Italia dan Swiss. Makanan diperiksa berlapis, tidak boleh ada pai tertutup, tidak boleh ada ayam utuh, dan semua minuman harus disajikan dalam gelas bening. Bahkan serbet harus dibuka lebar untuk memastikan tidak ada sesuatu yang diselipkan.
Film Conclave yang dirilis tahun 2024 juga menyoroti hal ini. Banyak adegan penting justru terjadi di kafetaria, bukan di ruang pemungutan suara. Komunikasi terjadi melalui bahasa tubuh saat makan, bukan lewat debat panjang.
Makanan sehari-hari para kardinal saat itu tetap terdengar lezat, yaitu salad segar, buah, charcuterie, air jernih, dan tentu saja anggur. Tempat tinggal mereka pun nyaman, dihiasi sutra, ada tempat tidur besar, meja tulis, rak pakaian, hingga pispot dengan tutup.
Bagaimana dengan sekarang?
Di konklaf tahun 2025 ini, para kardinal tinggal di Domus Sanctae Marthae, yang sebelumnya menjadi kediaman Paus Fransiskus selama 12 tahun masa kepausannya. Seluruh rumah disterilkan, jaringan internet diputus, bahkan pegawai Vatikan harus memarkir kendaraan jauh dari area tersebut.
Makanan untuk para kardinal kini disiapkan oleh biarawati. Menunya sederhana, khas masakan rumah daerah Lazio dan Abruzzo: minestrone, spaghetti, arrosticini (sate domba kecil), dan sayuran rebus. Tidak ada lagi menu mewah seperti ayam panggang utuh.
Simbolismenya kuat, di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus, Gereja ingin menampilkan wajah yang sederhana, bersih, dan jauh dari kemewahan duniawi.
Ritual Sakral di Balik Pintu Tertutup
Melansir Kemenag RI, sebelum benar-benar ‘terkunci’ pada 7 Mei 2025 pagi, semua kardinal berkumpul dalam misa Pro Eligendo Pontifice yang dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re. Misa ini menandai dimulainya masa pengasingan.
Siang harinya, setelah makan siang di Domus, 133 kardinal berarak ke Kapel Paolina, lalu berlanjut ke Kapel Sistina. Prosesi ini berlangsung hening, diiringi nyanyian doa kuno ‘Veni Creator Spiritus’, memohon Roh Kudus membimbing pilihan mereka.
Pukul 16.30 waktu Vatikan, satu per satu para kardinal mengangkat sumpah di atas Kitab Suci, bersumpah menjaga rahasia konklaf dan tidak melakukan pelanggaran apa pun. Siapa pun yang melanggar, berdasarkan aturan yang ditetapkan Paus Benediktus XVI, akan langsung dikenai hukuman ekskomunikasi.
Setelah semua bersumpah, terdengarlah seruan terkenal, ‘Extra Omnes!’, dan semua yang tidak berkepentingan harus keluar dari Kapel Sistina. Konklaf resmi dimulai.
Di setiap putaran pemilihan, para kardinal menuliskan pilihan mereka di kertas kecil bertuliskan Eligo in Summum Pontificem Meum (Saya memilih Pemimpin Tertinggiku).
Mereka berdoa, lalu memasukkan kertas ke dalam tempayan khusus. Setiap suara dihitung dengan seksama. Jika belum ada hasil, kertas-kertas dibakar dengan zat khusus hingga menghasilkan asap hitam. Kalau sudah ada Paus baru, asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina, dan lonceng besar Basilika Santo Petrus berdentang panjang.
Paus terpilih akan dibawa ke camera lacrimatoria, ‘kamar air mata’, sebuah ruangan kecil di samping altar, tempat ia menenangkan diri sebelum muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyapa dunia.