Krisis Ekonomi di Goma, Warga Gunakan Minyak Goreng untuk Pembayaran Sekolah
Jakarta, PANGKEP NEWS – Kondisi ekonomi di Goma, Republik Demokratik Kongo, hampir sepenuhnya terhenti. Sistem perbankan di sana terpuruk akibat konflik yang berkepanjangan.
Masyarakat terpaksa menggunakan barang kebutuhan pokok sebagai pengganti uang tunai. Bahkan, biaya pendidikan anak-anak dibayar dengan jeriken berisi minyak sawit.
Sejak kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda menguasai Goma pada Januari lalu, pemerintah Kongo menghentikan pengiriman uang tunai ke wilayah yang dikuasai pemberontak, menyebabkan aktivitas perbankan terhenti sama sekali.
Bank-bank di negara itu kini tutup dan ATM kosong.
“Prioritas saat ini adalah bertahan hidup,” kata Richard Mbueki, seorang guru di Sekolah Majengo, sambil menunjukkan jeriken minyak sawit yang ditinggalkan oleh orang tua murid.
Augustin Vangisivavi, pengelola sekolah, menjelaskan bahwa Sekolah Majengo kini menerima pembayaran sekolah dalam bentuk bahan pokok seperti makanan. Orang tua membawa barang, kemudian pihak sekolah menilai berdasarkan harga pasar dan memberikan kwitansi.
Uang Digital ‘Hanya Angan-angan’
Meski otoritas setempat di Goma menyarankan penggunaan uang digital, kenyataannya infrastruktur dan adopsi teknologi ini belum siap. Layanan pembayaran digital belum menjadi bagian dari keseharian warga Goma, berbeda dengan negara-negara Afrika Timur lainnya.
Warga yang masih menerima gaji, terutama dari lembaga internasional atau pemerintah, harus menyeberang ke Rwanda untuk menarik uang tunai, yang mengakibatkan biaya tambahan.
Daya Beli Menurun, Kriminalitas Meningkat
Tekanan ekonomi semakin besar, banyak warga kehilangan pekerjaan seiring keluarnya staf internasional dari wilayah konflik.
Godel Kahamby, mantan pegawai negeri, kini hanya bisa menjadi ibu rumah tangga, fokusnya hanya bertahan hidup. “Tak ada lagi anggaran untuk baju baru, makan enak, apalagi hiburan,” ujarnya.
Pedagang mengeluhkan penurunan daya beli. Pasar Birere yang dulu ramai kini sepi, kapal-kapal yang biasa mengangkut barang ke Provinsi Kivu Selatan berangkat dengan muatan kosong.
“Dulu saya bisa menjual 20 karung tepung jagung seminggu. Sekarang 10 karung sebulan saja sudah syukur,” keluh Nelson Kombi, pedagang di kawasan Majengo.
Solusi Darurat?
Kelompok M23 membentuk otoritas keuangan sendiri dan mengimbau warga untuk menyimpan uang di lembaga tersebut. Namun, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga ini masih minim.
Analis menyarankan lembaga ini seharusnya hanya mengelola pajak lokal.
Di tengah kelangkaan dolar AS dan franc Kongo, tingkat kejahatan di kota Goma dan Bukavu meningkat tajam, khususnya pada malam hari.
Situasi ini menggambarkan suramnya ekonomi yang runtuh akibat konflik, memaksa rakyat kecil berjuang demi bertahan hidup, termasuk membayar pendidikan anak dengan minyak goreng.