Keberhasilan Pria Ini Ekspor Kerajinan di Tengah Perjuangan Melawan Penyakit Langka
Jakarta, PANGKEP NEWS – Di sebuah sudut kota Tangerang, Roby Tanumiharja Putra (30 tahun) tidak pernah menyangka bahwa bisnis kerajinan semen yang dia bangun bisa mencapai pasar internasional, meski dirinya sedang berjuang melawan penyakit langka.
Roby awalnya bekerja di bagian pemasaran di perusahaan es krim, mengurus wilayah dari Serang hingga Cirebon. Tidak puas hanya menjadi pegawai, dia mencoba beragam usaha sampingan seperti ramen, gelato, dan mainan, namun semua tidak berhasil.
Suatu ketika, dalam perjalanan ke Bandung, Roby tertarik pada tanaman kaktus dan sukulen. Dia menjualnya secara online dan laku keras. Banyak pembeli kemudian menanyakan pot, yang memaksanya menjual pot gerabah dari Purwakarta. Saat usahanya mulai berkembang, Roby didiagnosis menderita penyakit langka, fistula.
“Saya hanya bisa bekerja dari tempat tidur, dibantu istri,” cerita Roby kepada PANGKEP NEWS. Dari situ, muncul ide untuk memproduksi pot sendiri. Bersama sang istri, dia memulai dari awal, membuat cetakan, mencari bahan, dan mengatur proses produksi. Kini, Royce.id memproduksi 5.000 pot per hari dengan 60 karyawan yang bekerja dalam tiga shift setiap harinya.
Produk Royce.id mencakup home living seperti tatakan gelas, vas, botol dekoratif, dan lilin aroma. Harga produk mulai dari Rp2.000 hingga Rp14.000. Selain dijual di Shopee dan Naiso, Royce.id juga mengekspor 10.000 produk ke Jepang setiap tiga bulan.
Masuk ke rumah produksi Royce.id seperti melihat sisi lain dari industri kreatif berbasis semen. Dinding dan rak-rak dipenuhi serpihan sisa adonan semen, lantainya berdebu, dan alat cetak tersebar di mana-mana. Suasana memang tampak berantakan, namun di sinilah karya-karya unik Royce.id lahir. Setiap pot, tatakan, hingga lilin aroma diproses secara manual: dituangkan, dikeringkan, lalu diamplas hingga halus.
Kunci keberhasilan Roby adalah konsistensi, riset pasar, dan pemanfaatan platform digital. “Target saya, penjualan harus naik 30 persen setiap tahun. Jadi, setiap bulan kami rilis lima produk baru,” ujarnya. Ia juga mendorong karyawan untuk berkembang, bahkan tim kontennya berasal dari mantan staf packing.
Namun perjalanan Royce.id tidak selalu mulus. Saat masih berproduksi di rumah, ia sempat diusir tetangga karena limbah produksi. Kini ia sudah pindah ke tempat yang lebih layak. Platform digital seperti Shopee berperan besar dalam kesuksesan Royce.id melalui program ekspor yang telah memasarkan lebih dari 50 juta produk UMKM sejak 2019. Roby memanfaatkan kanal Shopee Pilih Lokal dan fitur ekspor lintas negara. Ia juga mendapatkan banyak permintaan dari wedding organizer dan kementerian untuk produk souvenir.
Berkat digitalisasi dan semangat pantang menyerah, Roby membuktikan bahwa keterbatasan penyakit tidak menjadi penghalang untuk berkembang. Dari rumah orang tua, menyewa ruko sendiri untuk produksi, hingga ekspor ke Jepang, Royce.id adalah bukti bahwa UMKM Indonesia bisa mendunia.
Roby juga membagikan tips untuk UMKM yang baru berdiri maupun yang berjalan:
1. Mulai dari apa yang ada. Roby memulai usaha dari rumah, dengan modal kreativitas dan riset sederhana.
2. Manfaatkan platform digital. Menurutnya, Shopee sangat membantu menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan ke luar negeri.
3. Riset pasar secara rutin. Produk yang stagnan akan ditinggalkan, karena itu ia selalu menargetkan peluncuran produk baru setiap bulan.
4. Bangun tim yang bertumbuh. Ia percaya karyawan harus diberi kesempatan berkembang, bahkan dari divisi packing bisa jadi tim konten. “Saya selalu tanya ke tim saya, selain ini kamu bisa apa? Agar mereka bisa dapat pengetahuan lain dan semangat,” kata dia.
5. Tetapkan target pertumbuhan. Roby selalu menargetkan peningkatan penjualan 30% tiap tahun sebagai motivasi untuk terus bergerak.
“UMKM harus kreatif, produksi sendiri, dan jangan cepat puas. Kalau kita konsisten, hasilnya pasti mengikuti,” tutup Roby.