Gaji Tak Kunjung Dibayar, Karyawan Membakar Pabrik
Jakarta, PANGKEP NEWS – Insiden pembakaran pabrik akibat permasalahan upah kembali terjadi. Kali ini, insiden tersebut menimpa sebuah pabrik tekstil di Sichuan, China, pada Selasa (20/5/2025).
Menurut laporan dari Radio Free Asia, sejumlah unggahan di media sosial menyebutkan bahwa pabrik tekstil Sichuan Jinyu di Taman Industri Wangchang terbakar karena ulah seorang karyawan bernama Wen, yang berusia 27 tahun. Sebelum membakar pabrik tersebut, Wen sempat berselisih pendapat dengan atasannya mengenai upahnya yang belum dibayarkan sebesar 800 yuan (sekitar Rp 1,8 juta).
Pihak kepolisian di wilayah Pingshan telah mengonfirmasi insiden kebakaran ini dan menyatakan bahwa pelakunya telah ditahan di lokasi kejadian. Pada hari Jumat (23/5/2025), mereka menyatakan bahwa kasus ini sedang dalam penyelidikan lebih lanjut, termasuk penilaian kerugian yang diderita.
Polisi menuding bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh niat bunuh diri pelaku. Akibat aksi Wen, pabrik tersebut habis dilalap api selama 37 jam.
Namun, pernyataan polisi menambahkan bahwa klaim mengenai gaji 800 yuan yang belum dibayar adalah tidak benar, dan perusahaan sedang dalam proses menyetujui pembayaran upah sebesar 5.370 yuan (sekitar Rp 87 juta).
Setelah insiden tersebut, warganet di China menggunakan media sosial untuk menyatakan simpati terhadap nasib pekerja seperti Wen, yang tindakan ekstremnya mereka pandang sebagai hal yang sangat memprihatinkan.
“Saya membaca di internet bahwa keluarga Wen hidup dalam kemiskinan dan situasi yang mengerikan, dan bahwa ibunya sakit dan mereka sangat membutuhkan uang,” ujar Wang Shudong, seorang pengguna internet dari kota Yibin, kepada RFA pada hari Jumat.
“Ketika mereka yang upahnya belum dibayar mencari bantuan hukum, para hakim menghilang, dan staf departemen ketenagakerjaan juga menghilang. Namun, ketika Wen membakar pabrik, polisi datang dan begitu pula para pejabat dari sistem hukum.”
800 Brothers
Warganet dan pakar menyebut insiden ini sebagai “800 Brother,” merujuk pada jumlah 800 yuan yang belum dibayar kepada Wen. Mereka menekankan bahwa harus ada langkah lebih lanjut untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Mereka juga mempertanyakan hak dan jalur hukum apa yang tersedia bagi pekerja biasa yang mengalami penundaan pembayaran upah selama berbulan-bulan.
“Masyarakat China bergerak menuju masa depan yang tidak menentu, dan hubungan antarmanusia semakin tegang di bawah tekanan ekonomi yang memburuk,” kata Tang Gang, seorang sarjana yang berbasis di Sichuan, kepada RFA.
Xue, seorang peneliti hubungan ketenagakerjaan di Guizhou, menyatakan bahwa pemerintah, perusahaan, dan seluruh sektor masyarakat harus berkolaborasi untuk mengatasi masalah pekerja terkait upah dan tunjangan yang belum dibayar guna mencegah lebih banyak insiden “800 Brother”.
“Jika perusahaan dapat membangun sistem pembayaran upah yang baik untuk memastikan bahwa karyawan menerima gaji mereka tepat waktu dan penuh, kemungkinan terjadinya insiden ekstrem seperti ini dapat dikurangi secara efektif,” ujar Xue, yang lebih memilih untuk tidak memberikan nama lengkapnya demi alasan keselamatan.