Brasil Dinyatakan Bebas PMK, RI Berencana Impor Jeroan Sapi
Jakarta – Brasil, negara penghasil daging sapi terbesar di dunia, secara resmi diakui oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai negara yang bebas dari penyakit kaki dan mulut (PMK) tanpa vaksinasi. Pengumuman ini disampaikan oleh seorang pejabat tinggi Brasil dan juru bicara WOAH, sebagaimana diberitakan oleh PANGKEP NEWS.
Lobi industri daging Brasil yang mewakili perusahaan-perusahaan besar seperti JBS, Minerva, dan Marfrig menyatakan bahwa pengakuan ini merupakan tonggak sejarah yang dapat membuka peluang pasar ekspor baru bagi Brasil di seluruh dunia.
“Status baru ini akan secara resmi diumumkan pada 6 Juni 2025, bertepatan dengan pertemuan antara Presiden Lula dan Direktur Jenderal WOAH Emmanuelle Soubeyran,” ungkap Kepala Dokter Hewan Brasil, Marcelo Mota, pada hari terakhir konferensi WOAH di Paris, sebagaimana diberitakan pada Kamis, 29 Mei 2025.
Pada tahun sebelumnya, Brasil berhasil mengekspor daging sapi senilai hampir US$13 miliar ke berbagai negara seperti Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Negara-negara ini meningkatkan impor dari Brasil karena terbatasnya pasokan ternak untuk pemotongan.
Kelompok pelobi daging sapi Brasil, Abiec, menekankan bahwa status baru ini dapat menjadi “aset strategis” dalam negosiasi untuk membuka pasar dengan standar ketat seperti Jepang. Filipina dan Indonesia pun telah menunjukkan minat untuk mengimpor jeroan sapi berdasarkan status kesehatan ini.
“Pengakuan baru ini juga membawa tantangan dan tanggung jawab baru bagi semua pihak terkait,” ujar Abiec, menekankan pentingnya menjaga kesehatan ternak dalam kondisi sanitasi yang baik.
Perubahan status yang telah lama ditunggu ini telah diantisipasi oleh otoritas Brasil, termasuk Menteri Pertanian Carlos Favaro.
Pada Mei 2024, ketika Brasil mengumumkan berakhirnya siklus vaksinasi PMK, Favaro menyebutkan bahwa ini membawa Brasil “ke tingkat elite kesehatan global”. Target Brasil untuk bebas dari PMK tanpa vaksinasi pada 2026 dimajukan menjadi 2025. Namun, Kementerian Pertanian Brasil belum memberikan komentar lebih lanjut terkait hal ini.