Jakarta – Semakin Banyak Warga Asing Membeli Rumah di Korea Selatan
Seoul kini menjadi destinasi favorit, bukan hanya untuk tujuan wisata, tetapi juga sebagai tempat investasi properti. Seorang agen properti bermarga Kim dari Distrik Seodaemun di bagian barat laut Seoul mengungkapkan bahwa rekannya baru-baru ini menandatangani kontrak pembelian rumah dengan seorang warga China.
Menurut Kim, warga China tersebut berencana untuk membeli beberapa rumah di kota ini dan memiliki teman-teman yang berminat melakukan hal serupa. Kim menambahkan, “Banyak warga China yang ingin membeli apartemen untuk investasi.”
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanahan Korea Selatan, jumlah rumah yang dimiliki oleh warga negara China mencapai lebih dari 56.000 pada akhir tahun lalu, dari total 100.216 rumah milik asing di Korea. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 5.158 atau 5,4% dibandingkan enam bulan sebelumnya. Pemilik rumah yang bukan warga negara menyumbang 0,52% dari keseluruhan pemilik rumah di Korea.
Secara keseluruhan, terdapat 98.581 rumah yang dimiliki oleh warga asing. Warga negara China memiliki 56.301 rumah, atau 56,2%, disusul oleh warga Amerika Serikat dengan 22.031 rumah atau 22%, dan warga Kanada dengan 6.315 rumah atau 6,3%.
Sebagian besar, yaitu hampir 72,7% dari rumah-rumah milik asing ini, terletak di wilayah metropolitan Seoul. Provinsi Gyeonggi memiliki 39.144 rumah atau 39%, diikuti oleh Seoul dengan 23.741 rumah atau 23,7%, dan Incheon dengan sekitar 10% atau 9.983 rumah.
Sekitar 93% dari pemilik rumah asing hanya memiliki satu rumah, sementara 5.182 orang atau 5,3% memiliki dua rumah. Sebanyak 640 orang memiliki tiga rumah, 209 orang memiliki empat rumah, dan 461 orang memiliki lima rumah atau lebih.
Permintaan untuk peraturan yang lebih ketat terus meningkat guna mengatasi pembelian rumah yang bersifat spekulatif. Beberapa pihak juga mengkhawatirkan adanya penghindaran pajak, di mana dilaporkan bahwa pemilik asing menarik uang sewa dari banyak apartemen yang mereka beli saat tinggal di Korea dengan visa pelajar.
Pembeli asing harus mematuhi peraturan seperti rasio pinjaman terhadap nilai (LTV), pajak keuntungan modal, dan pajak kepemilikan properti, sama seperti warga Korea lainnya. Namun, otoritas Korea belum sepenuhnya mampu menelusuri asal dana yang digunakan oleh warga asing untuk membeli rumah.
Pada tahun 2023, terdapat 433 kasus pembelian properti ilegal oleh warga asing yang diidentifikasi oleh otoritas, di mana lebih dari 44% atau 192 kasus melibatkan warga negara China. Menurut Mahkamah Agung, jumlah properti milik warga China dari semua jenis meningkat menjadi 96.955 pada bulan April, naik 78,5% dari 54.320 pada tahun 2020, yang mencakup bangunan komersial dan tanah selain properti perumahan.
Seruan untuk “timbal balik” semakin menguat, karena di China sendiri, orang asing tidak bisa membeli tanah meskipun mereka dapat membeli properti perumahan untuk penggunaan pribadi dengan beberapa batasan. Sebaliknya, warga China menghadapi sedikit hambatan ketika membeli properti di Korea. Hal ini mendorong usulan undang-undang untuk memperketat pembatasan bagi warga non-residen yang membeli properti di Seoul dan Provinsi Gyeonggi, serupa dengan kebijakan yang diadopsi oleh Australia dan Kanada setelah kenaikan harga perumahan dan peningkatan kepemilikan properti oleh asing.