Penurunan Drastis Saham Perbankan RI, IHSG Terus Tertekan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Pada awal perdagangan hari ini, Senin (2/6/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pelemahan signifikan.
Indeks tergelincir 0,58% di sesi pertama, kembali ke level 7.134,49. Dengan 188 saham naik, 81 turun, dan 326 tidak berubah, IHSG terus melemah lebih dari 1% beberapa menit setelah pasar dibuka.
IHSG tercatat melemah 1,40% ke 7.075 pada pukul 09.38 WIB.
Transaksi pagi ini mencapai Rp 5,25 triliun melibatkan 6 miliar saham dalam 394 ribu transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 12.306 triliun.
Kecuali sektor transportasi, hampir semua sektor berada di zona merah.
Sektor keuangan (-1,35%), industri (-1.34%), properti (-0,97%), dan barang baku (-0,94%) mengalami koreksi terdalam.
Saham perbankan juga melemah, dengan Bank Central Asia (BBCA) turun lebih dari 3% ke posisi terendah Rp 9.025 per saham.
BBCA menjadi beban utama dengan penurunan 18,72 poin indeks. Sementara BBRI turun lebih dari 3% ke 4.280 per saham, dan BMRI juga turun lebih dari 3% ke 5.125 per saham, masing-masing turun 24,44 dan 10,99 poin indeks.
TLKM dan ASII melengkapi lima besar dengan koreksi cukup dalam.
Pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi oleh penantian data Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2025 dan neraca perdagangan April 2025.
IHK diperkirakan turun atau deflasi pada Mei 2025. Penurunan disebabkan harga bahan pangan, tiket transportasi, dan BBM yang lebih rendah.
Konsensus dari 10 institusi yang dihimpun PANGKEP NEWS memperkirakan IHK bulanan (month to month/mtm) turun 0,1%. Namun, secara tahunan (year on year/yoy), IHSK diproyeksi naik 1,89%.
Deflasi ini bisa menjadi yang ketiga sepanjang tahun ini setelah Januari (-0,76%) dan Februari (-0,48%).
Deflasi dapat mengindikasikan penurunan daya beli, terutama karena Indonesia sering mengalami deflasi tahun ini. Penurunan harga barang lebih disebabkan oleh melemahnya permintaan ketimbang harga yang kembali normal atau pasokan yang cukup.
Sentimen positif muncul dari investor asing setelah Bank Indonesia melaporkan data transaksi 26 – 27 Mei 2025. Investor asing melakukan pembelian neto Rp1,50 triliun, terdiri dari beli neto Rp0,11 triliun di pasar saham dan Rp2,02 triliun di pasar SBN, serta jual neto Rp0,63 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain IHK, investor juga menunggu data neraca perdagangan April 2025, yang akan menunjukkan dampak kebijakan perang dagang Presiden AS Donald Trump.
Polling PANGKEP NEWS dari sembilan institusi memperkirakan neraca dagang Indonesia menyusut ke US$ 2,7 miliar pada April 2025, dari US$ 4,33 miliar Maret 2025.
Trump mengumumkan kebijakan tarif impor 10% dan tarif resiprokal pada 2 April 2025. Meskipun menunda tarif resiprokal hingga 90 hari, tarif 10% tetap diberlakukan.
Data aktivitas manufaktur Indonesia sudah dilaporkan meskipun data IHK dan neraca dagang belum diketahui.
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi pada Mei 2025, menjadikannya dua bulan berturut-turut dalam tren negatif.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global hari ini, Senin (2/6/2025), menunjukkan PMI manufaktur Indonesia berada di 47,4, menandakan kontraksi. Ini adalah kontraksi kedua dalam dua bulan berturut-turut setelah April 2025 yang berada di 46,7.
PMI menggunakan angka 50 sebagai batas. Di atas 50 berarti ekspansi, di bawah berarti kontraksi.
S&P Global menjelaskan bahwa produksi dan pesanan baru kembali menurun, dengan penurunan pesanan lebih tajam dibanding April, terendah sejak Agustus 2021.
Nilai tukar rupiah akan dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar. Indeks melemah ke 99,17 sejak pekan lalu. Ini menguntungkan rupiah karena potensi pembelian rupiah setelah dolar dijual. Indeks jatuh sejak pertengahan Mei di tengah pergantian kebijakan Presiden AS Donald Trump.