Jakarta, PANGKEP NEWS
Perusahaan yang dimiliki oleh Haji Isam, atau dikenal juga sebagai Andi Syamsuddin Arsyad, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), pernah menjadi pusat perhatian beberapa tahun lalu. Ini disebabkan oleh keputusan menempatkan Jhony Saputra, yang berusia 21 tahun, sebagai komisaris utama perusahaan ini.
Perlu diketahui bahwa Jhony adalah putra kedua Haji Isam. Selain menjabat sebagai komisaris utama di JARR, Jhony juga memiliki PT Citra Agro Raya, yang memegang 38,25% saham di Pradiksi Gunatama (PGUN).
Menurut informasi dari Public Expose perusahaan, JARR didirikan pada 2014. Aktivitas utama perusahaan ini adalah pengelolaan perkebunan kelapa sawit, termasuk industri biodiesel dan minyak goreng. Kantor pusatnya terletak di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
JARR mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2019. Pada November 2023, perusahaan ini bergabung dengan PT Jhonlin Agro Lestari dan melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) pada 4 Agustus 2022.
Perusahaan melaporkan kepemilikan pabrik biodiesel dengan kapasitas produksi sebesar 1.500 ton per hari (TPD). JARR melihat industri biodiesel di Indonesia berkembang pesat, terutama sejak penerapan program mandatori pencampuran biodiesel seperti B20, B30, hingga B40.
Indonesia memanfaatkan posisinya sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia untuk memproduksi biodiesel dari CPO (minyak sawit). Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi impor solar, mendukung energi terbarukan, dan meningkatkan nilai industri kelapa sawit.
Selain pabrik biodiesel, JARR juga memiliki pabrik minyak goreng berkapasitas 250 TPD dan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 TPD. Perusahaan ini memiliki lahan kebun sawit dengan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 27.936 hektare. Dari lahan tersebut, 17.964 hektare telah ditanami, dan direncanakan penanaman baru seluas 700 hektare pada tahun 2025.
Perusahaan juga tercatat memiliki aset pelabuhan dengan kapasitas 1 kapal 10.000 DWT dan 3 kapal 5.000 DWT.
Aset-aset ini menghasilkan berbagai produk seperti fatty matter, glycerin, fame, RBDP stearin, PFAD, CPO, dan minyak goreng dengan merek JAR.
Selama kuartal I-2025, JARR mencatat penjualan bersih sebesar Rp 849,09 miliar, meningkat 2,67% secara tahunan (yoy). Namun, dengan menurunnya beban pokok penjualan sebesar 4,45% yoy, laba bruto perusahaan melonjak 85,8% yoy menjadi Rp 121,25 miliar.
Setelah dikurangi beban umum, beban keuangan, dan pajak, laba bersih Jhonlin Agro pada kuartal I 2025 mencapai Rp 59,73 miliar, meningkat 98,23% yoy.
Menurut data perusahaan, penjualan FAME selama tiga bulan pertama tahun ini telah mencapai 59% dari target tahun 2025 atau 49.426 kilo liter. Pada periode yang sama, penjualan non-FAME didominasi oleh crude glycerine sebanyak 4.000 ton.
Disusul oleh palm fatty acid distilate sebanyak 3.800 ton, kernel 1.721 ton, minyak goreng 1.464 kilo liter, fetty matter 1.209 ton, dan tandan buah segar 733 ton.
JARR menyatakan bahwa pada tiga bulan pertama tahun ini, margin perusahaan meningkat dan laba bersih naik secara signifikan. Jika tren ini berlanjut, target laba akhir tahun sebesar Rp 312 miliar dapat tercapai.
Untuk mendorong laba bersih, perusahaan berencana meningkatkan kinerja pabrik biodiesel menjadi 60%-70%. Selain itu, perusahaan akan meningkatkan produksi CPO internal, yang saat ini mencapai 15% dari total CPO yang diolah, menjadi 20%-25% pada tahun 2025. Langkah ini akan berdampak pada efisiensi biaya pembelian CPO sebagai bahan baku utama biodiesel.
Perusahaan juga berencana meningkatkan penjualan produk minyak goreng yang telah dipasarkan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.