10 Saham Berkinerja Terburuk Semester I: Emiten Besar Berguguran
Jakarta, PANGKEP NEWS – Di paruh pertama tahun 2025, sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami kemerosotan kinerja yang signifikan. Beberapa saham tersebut milik konglomerat dan pengusaha besar di Indonesia.
Saham berkapitalisasi besar tidak selalu menjamin kinerja harga saham yang positif. Kapitalisasi besar hanya menggambarkan ukuran perusahaan, bukan jaminan kenaikan harga. Perusahaan besar sering kali sudah stabil, sehingga pertumbuhannya tidak secepat perusahaan kecil yang masih dalam tahap ekspansi, membatasi potensi kenaikan harga sahamnya.
Salah satu emiten milik konglomerat Indonesia, Prajogo Pangestu, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan penurunan sebesar 36,66% di semester I 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh dampak negatif dari indeks ekuitas global MSCI dan FTSE.
Pada Februari 2025, MSCI mengeluarkan BREN dari MSCI Global Standard Indexes, yang menyebabkan banyak investor institusional mengikuti pedoman indeks ini melakukan aksi jual, sehingga BREN sempat tertekan turun hampir 20% dalam satu hari. Sebelumnya, pada September 2024, FTSE Russell juga menghapus BREN karena free float yang kurang dari 5%, memaksa dana indeks global untuk melepas saham BREN.
Selanjutnya, saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) milik keluarga Tanoesoedibjo juga mengalami penurunan tajam sepanjang semester I 2025.
Salah satu faktor penurunan saham MSIN adalah masuknya perusahaan ke dalam FTSE Global Equity Index Small-Cap yang berlaku pada 24 Maret 2025.
Walaupun dianggap prestisius, hal ini memicu aksi ‘sell the news’, dimana investor dana indeks berpotensi melakukan penyesuaian turun, menyebabkan aksi jual massal. Momentum ini menciptakan tekanan jual tambahan, terutama pada saham berkapitalisasi kecil seperti MSIN.
Salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia juga mengalami penurunan kinerja saham di semester I 2025. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan harga saham sebesar 31,07%.
Penyebab utama penurunan harga saham GGRM adalah sejalan dengan penurunan kinerja keuangan perusahaan. Pada tahun 2024, GGRM membukukan laba bersih Rp981 miliar, turun 81,6% dibandingkan 2023 yang tercatat Rp5,3 triliun. Ini merupakan nilai laba bersih terendah dibandingkan empat tahun sebelumnya, yaitu Rp7,64 triliun pada 2020, Rp5,6 triliun pada 2021, Rp2,78 triliun pada 2022, dan Rp5,32 triliun pada 2023.
Persaingan ketat dengan merek lain serta maraknya rokok ilegal yang menghindari cukai mahal menjadi tantangan bagi perusahaan ini. Investor juga mempertanyakan strategi GGRM, yang hingga kini belum memasuki pasar produk bebas asap seperti e-vapor yang ditawarkan pesaingnya.
Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang terafiliasi dengan Garibaldi atau yang dikenal dengan Boy Thohir, juga mengalami penurunan mencapai 24,69% pada semester I 2025.
Penurunan saham ADRO sejalan dengan pelepasan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) atau spin off yang berdampak negatif pada kinerja keuangan ADRO.
Pada Desember 2024, ADRO melepas sekitar 74,6% saham PT Adaro Andalan Indonesia (AADI), mengubahnya dari entitas terintegrasi menjadi holding batubara metalurgi. Akibatnya, laba dan pendapatan turun drastis di kuartal I 2025, dengan pendapatan anjlok 22% (yoy) menjadi US$382 juta, dibandingkan US$491 juta pada kuartal I 2024. Laba bersih pun turun hampir 80% (yoy) menjadi US$77 juta, dibandingkan US$374 juta pada tahun sebelumnya.
Saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), milik grup Salim, juga mencatatkan penurunan tajam di semester I 2025 hingga 24,58%.
Aksi jual pada saham TOWR terjadi akibat rights issue dan kekhawatiran dilusi. Pada akhir April 2025, TOWR mengumumkan rencana rights issue sekitar 4,9 miliar saham baru atau sekitar 23% dilusi. Langkah ini dilakukan untuk membayar utang dan modal kerja, serta akuisisi anak usaha. Pengumuman tersebut menimbulkan kekhawatiran investor mengenai dilusi kepemilikan dan potensi tekanan harga segera setelah rights issue diumumkan.
Pemegang saham mayoritas, PT Sapta Adhikari Investama, juga memilih untuk tidak menyerap rights issue mereka, menambah tekanan distribusi saham baru.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik dari PANGKEP NEWS Research. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya berada di tangan pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
PANGKEP NEWS RESEARCH