Sepuluh Tradisi Unik 1 Muharram di Indonesia
Jakarta – Tahun Baru Islam, yang diperingati setiap 1 Muharram atau dikenal juga sebagai 1 Suro dalam kalender Jawa, dirayakan masyarakat Indonesia dengan tradisi yang kaya akan makna spiritual, budaya, dan sosial.
Setiap daerah memiliki cara khas untuk menyambut tahun baru Hijriah ini, yang beragam dari ritual religius hingga acara kebudayaan lokal.
Berikut adalah sepuluh tradisi yang dilaksanakan pada 1 Muharram di berbagai penjuru Indonesia:
Pawai Obor
Tradisi ini mungkin paling dikenal dan tersebar di banyak daerah. Menjelang malam 1 Muharram, warga, terutama anak-anak dan remaja, mengikuti pawai keliling kampung dengan obor di tangan.
Mereka berjalan sambil melantunkan sholawat, takbir, dan doa, sebagai bentuk syiar Islam serta menyambut tahun baru Hijriah. Obor yang menyala melambangkan semangat hijrah, harapan baru, dan cahaya menuju kehidupan yang lebih baik.
Sekaten (Yogyakarta & Surakarta)
Sekaten sering dihubungkan dengan Maulid Nabi, tetapi memiliki akar spiritual dan budaya yang serupa dengan 1 Muharram.
Diadakan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, Sekaten melibatkan pawai gamelan pusaka, pasar malam rakyat, dan puncaknya Grebeg Maulud, di mana Gunungan, tumpeng besar berisi hasil bumi, diarak dan diperebutkan. Tradisi ini adalah dakwah Islam lewat budaya yang diwariskan sejak Walisongo.
Sedekah Gunung Merapi
Warga sekitar Gunung Merapi, seperti di Desa Lencoh, Boyolali, melaksanakan sedekah gunung. Mereka membawa sesaji seperti kepala kerbau dan hasil bumi ke puncak gunung sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan dari bencana alam. Ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, yang terjaga melalui ritual leluhur yang sakral.
Tapa Bisu
Tradisi unik dan penuh makna ini dilakukan oleh abdi dalem dan masyarakat Yogyakarta setiap malam 1 Suro. Peserta berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton (Benteng Baluwarti) sejauh sekitar 7 km tanpa berbicara. Larangan bicara melambangkan pengendalian diri dan introspeksi. Tapa Bisu bukan sekadar jalan malam, melainkan meditasi sosial dan spiritual, serta momen berdoa dalam diam kepada Tuhan.
Ngadulag (Lomba Tabuh Bedug)
Di wilayah Sunda, khususnya Sukabumi, perayaan tahun baru Islam diwarnai dengan lomba tabuh bedug atau ‘Ngadulag.’ Bedug ditabuh dengan semangat, sering kali menjadi ajang kompetisi antar kelompok. Tradisi ini bukan hanya hiburan, tetapi juga simbol pemanggilan spiritual, mengingatkan bahwa pergantian tahun adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bubur Suro
Di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, 1 Suro dirayakan dengan membuat bubur suro yang terdiri dari bubur putih dan merah. Bubur ini dimasak bersama dan dibagikan kepada tetangga atau disantap di masjid. Warna merah-putih melambangkan keseimbangan antara suka dan duka dalam hidup. Tradisi ini juga menjadi sarana bersedekah dan mempererat hubungan antarwarga, sekaligus sebagai harapan agar tahun baru membawa berkah dan keselamatan.
Ziarah Gunung Tidar
Di Magelang, warga mendaki Gunung Tidar pada malam tahun baru Islam untuk berziarah ke makam tokoh spiritual seperti Syekh Subakir, Kiai Sepanjang, dan Kiai Semar. Tradisi ini bertujuan memohon keberkahan, keselamatan, dan perlindungan. Ziarah ini mempererat nilai spiritual sekaligus napak tilas sejarah penyebaran Islam di Jawa.
Tradisi Tabuik atau Tabut
Di Pariaman (Sumatera Barat) dan Bengkulu, masyarakat memperingati peristiwa Karbala dengan ritual Tabuik atau Tabut. Dimulai 1 Muharram dan puncaknya pada 10 Muharram (hari Asyura), dua Tabuik, keranda besar dari bambu dan rotan, diarak dan dilarung ke laut. Ini merupakan penghormatan atas gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, simbol perlawanan terhadap kezaliman dan semangat pengorbanan.
Tradisi Nganggung
Di Bangka, terutama Pangkalpinang, warga melaksanakan tradisi Nganggung, yaitu membawa dulang berisi makanan ke masjid dan memakannya bersama. Tradisi ini menumbuhkan rasa persaudaraan, mempererat silaturahmi, dan sebagai wujud syukur kolektif atas nikmat dan rezeki yang diterima. Tradisi ini juga menguatkan solidaritas antarwarga lintas usia dan status sosial.
Suran Manten Desa Traji (Temanggung)
Desa Traji di Kecamatan Parakan, Temanggung, memiliki tradisi unik bernama Suran Manten. Kepala desa dan istrinya dirias seperti pengantin, lalu diarak keliling desa hingga ke sumber mata air keramat. Ritual ini simbolik bagi pemimpin desa untuk memohon berkah dan keselamatan bagi warga, sekaligus penghormatan terhadap alam yang memberikan kehidupan.
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH