Bersiaplah untuk PHK Massal yang Semakin Meningkat seiring Perubahan Dunia
Jakarta – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) diperkirakan akan semakin meningkat. Faktor utama yang memicunya kini bukan hanya kondisi perekonomian global, tetapi juga karena kehadiran kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan teknologi di seluruh dunia mulai mengurangi jumlah tenaga kerjanya sejalan dengan efisiensi yang dihadirkan oleh AI.
Baru-baru ini, perusahaan keamanan siber asal AS, CrowdStrike, melakukan pemangkasan 5% pegawainya pada bulan Mei lalu. Alasan di balik keputusan ini adalah AI yang meningkatkan efisiensi di berbagai aspek operasional.
CEO Shopify, Tobi Lutke, menyatakan bahwa manajer hanya boleh mengusulkan penambahan tenaga kerja jika mereka dapat membuktikan bahwa tugas tersebut tidak dapat diselesaikan oleh AI.
“AI kini bukan hanya berfungsi sebagai penasihat, tetapi juga menjadi pelaksana langsung bagi merchant kami. Ini adalah perubahan yang signifikan,” tutur Lutke, dikutip dari PANGKEP NEWS.
Duolingo, platform pembelajaran bahasa, juga mengambil langkah serupa. CEO Duolingo, Luis von Ahn, secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan akan mengurangi penggunaan kontraktor dan menggantinya dengan AI.
“Kami secara bertahap akan berhenti menggunakan kontraktor untuk pekerjaan yang dapat dikelola oleh AI,” tulis Ahn dalam memo kepada karyawan pada bulan Mei.
“Penambahan tenaga kerja hanya akan dipertimbangkan jika sebuah tim tidak lagi mampu mengotomatisasi pekerjaannya,” tambahnya.
Langkah yang lebih ekstrem diungkapkan oleh CEO BT, perusahaan telekomunikasi Inggris, yang menargetkan pengurangan 40.000 pegawai dalam satu dekade ke depan. Dia menambahkan bahwa jumlah tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi penghematan dari penggunaan AI di masa depan.