Pengaruh Kecerdasan Buatan dan Konflik Israel Vs Iran
Catatan: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan pendapat Redaksi PANGKEP NEWS.
Isu yang menghebohkan dunia saat ini adalah kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Ini terbukti ketika Iran meluncurkan serangan terhadap wilayah strategis Israel dan beberapa pangkalan militer AS di negara-negara yang termasuk dalam jangkauan nuklir seperti Qatar.
Mengutip PANGKEP NEWS, konflik selama hampir dua minggu antara Israel dan Iran tidak hanya mengakibatkan kehilangan nyawa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menggoyahkan ekonomi Israel secara signifikan.
Beberapa laporan memprediksi bahwa konflik ini telah membebani keuangan negara hingga puluhan miliar dolar, memperburuk defisit anggaran, dan menimbulkan kekhawatiran investor tentang stabilitas ekonomi dalam jangka pendek.
Menurut Financial Express, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency, Kamis (26/6/2025), Israel telah menghabiskan sekitar US$5 miliar atau sekitar Rp81,15 triliun hanya dalam pekan pertama serangan terhadap Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha menjadi penengah dengan menyatakan bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk menghentikan perang. Namun, ketegangan belum mereda, bahkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan tidak akan menyerah terhadap Amerika Serikat serta mengancam akan kembali menyerang pangkalan militer AS.
Selain dampak dari ketegangan geopolitik yang meningkat, negara-negara mulai mempertimbangkan potensi untuk bergabung atau tidak bergabung dalam blok-blok tertentu serta menganalisis berbagai skenario yang mungkin terjadi, seperti kenaikan harga minyak jika Selat Hormuz ditutup.
Dampak lain yang belum banyak diperhatikan adalah potensi ‘kekacauan’ di platform media sosial. Kekacauan ini berkaitan dengan etika dan moral pengguna media sosial yang memanfaatkan situasi perang untuk menimbulkan ketakutan lebih lanjut di masyarakat, terutama di platform digital.
Menurut penulis, hal ini perlu dipertanyakan, apakah kekacauan ini didalangi oleh negara-negara yang terlibat konflik? Atau mungkin ada kelompok intelektual yang ingin menciptakan ketakutan di dalam komunitas dunia beradab?
Masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap kebenaran informasi yang beredar di media sosial, terutama dengan perkembangan AI yang dapat menghasilkan konten menyerupai keadaan nyata.
Dalam konteks peperangan, AI dapat mensimulasikan adegan-adegan sesuai dengan perkembangan yang terjadi, sehingga seolah valid.
Pemerintah Indonesia dapat mencegah ketakutan ini dengan membuat peraturan hukum yang tegas mengenai pelarangan konten-konten yang difabrikasi serta konten yang dapat memecah belah, menimbulkan ketakutan di masyarakat, dan yang tidak sesuai dengan norma moral dan kesusilaan.
Selain itu, jika diperlukan, disarankan untuk membentuk satuan tugas khusus yang mengawasi AI di Indonesia, melibatkan stakeholders seperti Kementerian Komunikasi dan Digital, Badan Siber dan Sandi Negara, serta Badan Intelijen Negara.