Diusir dari Indonesia, Pria Sukabumi Menjadi Raja Hotel Dunia
Jakarta, PANGKEP NEWS — Jaringan penginapan ‘Aman Resort’ terkenal di seluruh dunia karena kemewahannya. Tak disangka, ada sosok pria berdarah Indonesia yang berperan penting dalam pendiriannya.
Aman Resort tersebar di berbagai belahan dunia dan menawarkan pengalaman memanjakan bagi para pelancong. Tarif menginap di Aman Resort bervariasi, dengan rata-rata mencapai puluhan juta per malam.
Di Indonesia, salah satu properti Aman Resort yang terkenal terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dikenal sebagai ‘Amanjiwo’, Anda bisa menikmati pemandangan Borobudur dari sudut pandang yang menakjubkan.
Saat ini, CEO Aman adalah Vladislav Doronin, seorang warga Rusia. Namun, sebelum Doronin mengambil alih, Aman Group didirikan oleh Adrian Willem Ban Kwie Lauw-Zecha, atau lebih dikenal dengan Adrian Zecha.
Kisah hidupnya ternyata penuh tantangan. Ia adalah seorang pengusaha yang pernah diusir dari tanah air, namun berhasil menunjukkan kebolehannya dengan meraih kesuksesan besar di industri perhotelan global.
Adrian mendirikan Aman Resort pertama kali pada tahun 1988, dan kini sudah beroperasi di 20 negara. Ia dibesarkan dalam keluarga Tionghoa terpandang dan kaya raya. Mely Tan dalam The Chinese of Sukabumi (1963) menggambarkan keluarganya sebagai ‘cabang atas’, yang merujuk pada keluarga Tionghoa yang sangat kaya dan sukses di Indonesia.
Ayahnya, William Lauw-Zecha, adalah orang Indonesia pertama yang lulus dari Universitas Lowa, Amerika Serikat, pada tahun 1923. Sedangkan saudara-saudaranya berhasil menduduki jabatan tinggi di pemerintahan kolonial. Dari keunggulan ini, tak heran jika Adrian mendapatkan banyak kemudahan.
Ia tercatat pernah menempuh pendidikan di Pennsylvania sekitar tahun 1950-an. Namun, posisi keluarganya yang terhormat di Indonesia runtuh pada periode 1956-1957.
Pada masa itu, Presiden pertama RI, Soekarno, melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia. Proses nasionalisasi ini juga disertai dengan meningkatnya sentimen terhadap warga non-pribumi. Akibatnya, bisnis keluarga Zecha diambil alih oleh negara. Mereka sekeluarga pun pindah dan menetap di Singapura.
Beruntung bagi Adrian, pada saat itu ia masih berada di Amerika Serikat karena bekerja sebagai jurnalis di Time. Sebelum terjun ke bisnis perhotelan pada tahun 1988, Adrian meniti karir sebagai jurnalis wisata di berbagai media.
Karirnya sebagai jurnalis wisata memberinya kesempatan untuk berkeliling dunia, dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya. Dari sinilah minatnya terhadap pariwisata dan perhotelan mulai tumbuh.
Martin Roll dalam Asian Brand Strategy (2015) menjelaskan bahwa keterlibatan pertama Adrian dalam bisnis perhotelan terjadi pada tahun 1972 ketika ia ikut membangun Regent International Hotels, sebelum akhirnya mendirikan hotel sendiri pada 1988.
Cerita pendirian hotel oleh Adrian juga cukup menarik. Ia mendirikan hotel karena ketidakpuasannya terhadap konsep hotel pada masa itu yang menawarkan ruangan besar dengan kelas yang berbeda. Baginya, konsep ini membuat hotel harus berdiri dengan bangunan besar yang menutupi keindahan lokasi wisatanya.
Ia pun ingin membangun hotel dengan konsep yang berbeda, yaitu eksklusif dan kecil, hanya terdiri dari 50 kamar saja. Ukuran yang kecil ini memungkinkan lokasi wisata di daerah terpencil untuk memiliki hotel.
Konsep ini diwujudkan di Phuket, Thailand. Bersama temannya, Anil Thadani, Adrian menyatukan modal dan membangun hotel di sana dengan biaya US$ 4 juta.
Pada Desember 1987, hotel tersebut selesai dibangun dan diberi nama Amanpuri. Nama ‘Aman’ diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘Damai’. Adrian ingin hotel tersebut memberikan rasa damai kepada para tamunya.
Berdasarkan filosofi pendiriannya, Amanpuri memiliki kurang dari 50 kamar yang bertujuan untuk menjaga eksklusivitas bagi para tamu. Dengan jumlah kamar yang lebih sedikit, Adrian percaya bahwa pelayanan yang diberikan dapat maksimal, sehingga memberikan kepuasan bagi para tamu. Ini berbeda dengan hotel lainnya yang kurang memperhatikan pelayanan karena banyaknya jumlah kamar.
Masih mengutip dari Asian Brand Strategy (2015), dengan strategi seperti itu, Adrian dan Aman berhasil memberikan pengalaman berbeda kepada tamu, yang membuatnya semakin dikenal. Selain itu, kesuksesan ini juga disebabkan oleh kemampuan Aman dalam menemukan lokasi di tempat wisata terpencil.
Jadi, begitu ada lokasi wisata terpencil, Adrian langsung memilih dan mendirikan Aman di sana.
Saat ini, Hotel Aman telah berkembang menjadi salah satu perusahaan perhotelan terbesar di dunia. Jika Anda menemukan nama hotel yang diawali dengan ‘Aman’, seperti Amanjiwo, Amanpuri, Amankila, dan lainnya, maka hotel tersebut berada di bawah naungan Aman Group yang didirikan oleh pria asal Sukabumi ini.
Melihat kisah perjalanan ini, masyarakat Indonesia bisa berbangga karena nama besar Aman Resort yang dikenal di seluruh dunia ternyata berawal dari ide cemerlang anak bangsa.