Wilayah di Jawa yang Pernah Mengalami Gempa Megathrust
Jakarta, PANGKEP NEWS – Tidak banyak yang menyadari bahwa Pulau Jawa memiliki sejarah panjang dengan aktivitas gempa, khususnya gempa megathrust. Jawa adalah pulau dengan populasi terpadat di Indonesia, sehingga potensi gempa besar dapat menjadi ancaman serius yang bisa terjadi kapan saja.
Dalam kaitannya dengan sejarah gempa megathrust, Jawa memiliki segmen megathrust yang merupakan bagian dari 13 segmen megathrust yang tersebar di seluruh Indonesia.
Segmen megathrust di Jawa terbagi menjadi tiga bagian, yaitu segmen Selat Sunda-Banten, Segmen Jawa Barat, dan Segmen Jawa Tengah-Jawa Timur.
Menurut pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), zona megathrust di selatan Jawa sangat aktif, seperti yang terlihat dalam peta aktivitas seismisitasnya.
Sejak tahun 1700, catatan sejarah menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa telah mengalami beberapa kali aktivitas gempa besar dan dahsyat.
Gempa dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 dari zona megathrust selatan Jawa telah terjadi sebanyak 8 kali, dan lebih dari magnitudo 8,0 terjadi sebanyak 3 kali. Namun, gempa dengan kekuatan 9,0 atau lebih besar belum tercatat di selatan Jawa dalam sejarah gempa.
Potensi Indonesia Mengalami Gempa Megathrust Lagi
Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik memiliki risiko tinggi terhadap gempa dan tsunami.
BMKG menjelaskan bahwa dari 13 segmen, ada dua yang memiliki risiko tertinggi. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, telah memperingatkan bahwa gempa dari dua zona Megathrust tersebut tinggal menunggu waktu.
Kedua zona tersebut adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut, yang sudah lama tidak mengalami gempa (seismic gap) selama berabad-abad. Gempa besar biasanya memiliki siklus dalam rentang waktu ratusan tahun.
Belum lama ini, pada Rabu (7/5/2025), gempa dengan kekuatan M5,2 mengguncang wilayah Nias Barat yang dikaitkan dengan Megathrust Mentawai-Siberut.
Daryono menjelaskan bahwa gempa di Nias Barat adalah jenis gempa bumi dangkal akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
“Gempa ini murni berpusat di zona Megathrust Mentawai Siberut,” kata Daryono dalam keterangannya, dikutip Sabtu (19/7/2025).
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa dampak Megathrust untuk selatan Jawa Barat yang memanjang hingga Selat Sunda perlu diwaspadai.
Para peneliti menekankan bahwa energi yang terkunci di zona subduksi ini terus bertambah seiring waktu. Jika energi ini dilepaskan sekaligus, dampaknya bisa memicu gempa besar hingga magnitudo 8,7.
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan bahwa pelepasan energi ini tidak hanya menyebabkan guncangan kuat, tetapi juga menggerakkan kolom air laut dan membentuk tsunami besar.
Menurut perhitungannya, jika Megathrust di wilayah Pangandaran pecah, gelombang tsunami setinggi 20 meter bisa terjadi dan menjalar ke berbagai wilayah, termasuk Banten, Lampung, dan bahkan Jakarta.
“Seluruh pesisir Banten akan terdampak, tetapi tinggi tsunaminya akan berbeda-beda,” kata Rahma kepada PANGKEP NEWS baru-baru ini.
Di kawasan pesisir Banten, tsunami diprediksi bisa mencapai ketinggian antara 4 hingga 8 meter. Sementara di pesisir Lampung, seluruh wilayah yang menghadap Selat Sunda disebut akan terkena dampaknya.
Untuk Jakarta, tsunami diperkirakan mencapai pesisir utara dengan ketinggian sekitar 1 hingga 1,8 meter. Namun, waktu kedatangannya lebih lambat dibanding daerah lain, dengan estimasi tiba di Jakarta setelah 2,5 jam sejak gempa terjadi.
“Di selatan Jawa, tsunami sampai dalam waktu 40 menit, bahkan di Lebak hanya 18 menit. Tapi di Jakarta Utara, tsunami tiba 2,5 jam setelah gempa,” jelas Rahma.
BRIN mengajak masyarakat Indonesia untuk waspada terhadap risiko Megathrust. Risiko ini bukan hanya gempa dan tsunami, tetapi juga kerusakan infrastruktur, gangguan layanan dasar, dampak sosial ekonomi, hingga kehilangan nyawa.
Informasi Tambahan tentang Zona Megathrust
Sebagai informasi, zona megathrust bukanlah hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia.
Zona megathrust terletak di zona subduksi aktif, seperti Subduksi Sunda yang mencakup Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba, Subduksi Banda, Subduksi Lempeng Laut Maluku, Subduksi Sulawesi, Subduksi Lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.
Saat ini, segmen zona megathrust di Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Aktivitas gempa yang bersumber dari zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar.
Zona megathrust dapat memicu gempa berbagai magnitudo dan kedalaman. Data hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa “gempa kecil” lebih sering terjadi di zona megathrust, meskipun zona ini dapat memicu gempa besar.
PANGKEP NEWS RESEARCH