Apple Berinvestasi Rp 8,5 Triliun untuk Memastikan Pasokan Bahan Baku iPhone
Jakarta – Apple, perusahaan teknologi ternama, telah mengalokasikan US$500 juta atau sekitar Rp 8,15 triliun dalam sebuah perjanjian dengan perusahaan tanah jarang asal AS, MP Materials. Kesepakatan ini dilakukan di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump agar ponsel pintar yang populer tersebut diproduksi di dalam negeri.
Dalam perjanjian tersebut, Apple berkomitmen untuk membeli magnet tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE) secara langsung dari MP Materials untuk memperkuat rantai pasokannya di Amerika Serikat.
Selain itu, Apple juga akan bekerjasama dengan perusahaan tersebut dalam pengembangan jalur daur ulang baru di California, yang akan memanfaatkan kembali material magnet tanah jarang untuk diaplikasikan dalam produk-produk Apple.
Langkah ini merupakan bagian dari investasi Apple senilai US$500 miliar yang diumumkan awal tahun ini, sebagai upaya untuk memperluas operasional di AS. Hal ini sejalan dengan dorongan pemerintahan Trump untuk meningkatkan produksi teknologi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada China.
Elemen tanah jarang sangat penting untuk berbagai produk, mulai dari ponsel pintar hingga televisi dan jet militer, serta telah menjadi poin negosiasi utama dalam perdagangan antara Washington dan Beijing, mengingat China menguasai hampir seluruh pemrosesan elemen tersebut.
“Inovasi Amerika adalah pendorong utama dari apa yang kami lakukan di Apple, dan kami bangga untuk memperdalam investasi kami dalam ekonomi AS,” ujar CEO Apple Tim Cook dalam siaran pers.
MP Materials mengungkapkan, fasilitas mereka di Fort Worth, Texas, akan memproduksi lini magnet baru khusus untuk produk Apple. Pengiriman diharapkan dapat dimulai pada tahun 2027 dan akhirnya akan mendukung ratusan juta perangkat Apple.
Kelak, bahan-bahan tersebut akan didistribusikan ke seluruh Amerika Serikat dan ke berbagai belahan dunia.
Apple menyatakan bahwa ekspansi ini akan menghasilkan banyak lapangan pekerjaan baru. Kedua perusahaan juga akan menyediakan pelatihan untuk mengembangkan tenaga kerja di AS.
China memiliki monopoli virtual atas elemen logam tanah jarang, yang merupakan komponen vital untuk produk sehari-hari seperti ponsel pintar, turbin angin, lampu LED, dan televisi layar datar. Elemen ini juga sangat penting untuk baterai kendaraan listrik, pemindai MRI, dan perawatan kanker.
Material ini tersebar di seluruh permukaan bumi namun sulit dan mahal untuk diekstraksi dan diolah. China memiliki satu-satunya peralatan yang diperlukan untuk memproses elemen ini dan saat ini menguasai 92% produksi global dalam tahap pemrosesan.
Walaupun kesepakatan dengan MP Materials bisa membantu Apple memperoleh dukungan dari Trump di tengah ancaman tarif, upaya ini juga sejalan dengan inisiatif Apple untuk memasukkan lebih banyak bahan daur ulang ke dalam produknya, sebuah rencana yang sudah ada bahkan sebelum Trump menjabat.
Misalnya, iPhone 16e yang diluncurkan awal tahun ini, mengandung 30 persen bahan daur ulang. Apple menyatakan bahwa mereka menggunakan logam tanah jarang yang didaur ulang dalam produk-produk utama mereka, termasuk magnet pada iPhone, iPad, Apple Watches, MacBook, dan model Mac terbaru.
Pemerintahan Trump telah mendorong Apple dan perusahaan teknologi besar lainnya untuk memproduksi barang mereka di Amerika Serikat, alih-alih mengandalkan fasilitas perakitan dan operasi rantai pasokan yang sebagian besar berada di Cina, India, dan Vietnam.
Meskipun demikian, Apple belum membahas rencana untuk memindahkan produksi iPhone ke AS, dan tampaknya hal itu tidak mungkin dilakukan karena perusahaan ini harus mengubah cara membuat produk yang paling menguntungkan.
Kerjasama antara Apple dan MP Manufacturing mencakup pengembangan sumber daya manusia yang diperlukan untuk manufaktur magnet. Inilah salah satu alasan mengapa begitu sulit untuk memindahkan produksi iPhone ke Amerika Serikat, karena negara tersebut tidak memiliki tenaga kerja dengan keahlian khusus yang diperlukan, ujar para ahli.
“Keahlian untuk membuat setiap komponen adalah sesuatu yang harus dikembangkan dalam jangka panjang,” kata David Marcotte, wakil presiden senior di perusahaan riset pasar internasional Kantar.
Cook, saat berbicara di acara Majalah Fortune pada tahun 2017, juga pernah membahas kesenjangan tenaga kerja di masa lalu, menggambarkan tenaga kerja di China sebagai perpaduan antara keterampilan pengrajin, robotika canggih, dan ilmu komputer.
Namun, komitmen untuk berinvestasi dalam tanah jarang yang berasal dari AS tampaknya akan menyenangkan Trump. Presiden telah memuji pengumuman investasi Apple sebelumnya sebagai kemenangan dalam upaya meningkatkan manufaktur Amerika.