Harga Cokelat Meningkat, Kakao Semakin Langka: Siapa yang Dapat Bertahan?
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Harga kakao dunia kembali bergejolak setelah mengalami kenaikan tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Menurut data dari Refinitiv, harga futures kakao naik 6,7% menjadi $7.600 per ton pada Jumat lalu (18/7/2025), namun tetap mengalami penurunan tajam sebesar 12% dalam sepekan, tertekan oleh data penggilingan kuartal kedua yang melemah di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Penurunan ini berlangsung bertahap sejak akhir Juni, setelah mencapai US$9.356 per ton pada 30 Juni 2025.
Di Eropa, wilayah dengan konsumsi cokelat terbesar di dunia, perlambatan industri kakao semakin dirasakan.
Berdasarkan laporan dari the Japan Times, sebuah survei terhadap tujuh pedagang dan pengolah kakao menunjukkan bahwa volume biji yang digiling menjadi butter dan bubuk kakao pada kuartal II/2025 diperkirakan turun hampir 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menandai penurunan selama empat kuartal berturut-turut dan menjadi tingkat terendah sejak pandemi dimulai.
Penurunan konsumsi disebabkan oleh harga kakao yang sempat melonjak lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, dipicu oleh gagal panen di Afrika Barat.
Perusahaan cokelat seperti Barry Callebaut hingga Nestlé terpaksa menaikkan harga produk, mengubah resep dengan menambahkan kacang atau minyak nabati sebagai pengganti, hingga memperkecil ukuran kemasan untuk menekan biaya produksi.
“Selama 12-15 bulan terakhir, harga kakao yang terlalu tinggi telah banyak merusak permintaan. Volume konsumsi turun, dan perusahaan mencoba menggunakan lebih sedikit kakao dengan menggantinya dengan bahan lain,” kata Steve Wateridge, Kepala Penelitian di Tropical Research Services (TRS).
Malaysia dan Asia Ikut Terpengaruh
Tak hanya Eropa, perlambatan juga terjadi di Asia. Malaysia mencatat penurunan penggilingan kakao hingga 22%, menandakan lemahnya pasar regional. Data penggilingan kuartal II dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara akan dirilis pekan ini dan diperkirakan menunjukkan tren serupa.
Kondisi ini memperburuk rantai pasokan karena penggilingan yang lebih rendah mengurangi produksi cocoa butter, produk bernilai tinggi, dan berdampak pada pasokan bubuk kakao yang dibutuhkan industri makanan dan minuman. Ironisnya, meski butter mengalami kelebihan stok, harga bubuk kakao justru mendekati rekor karena kelangkaan.
Walaupun harga kakao sudah turun lebih dari sepertiga dari puncaknya pada Desember 2024, stok global tetap terbatas. Afrika Barat, terutama Pantai Gading dan Ghana sebagai produsen utama, masih menghadapi masalah struktural seperti pohon kakao tua, penyakit tanaman, dan keterbatasan peremajaan kebun.
Penurunan permintaan cokelat ini memaksa pengecer dan produsen makanan mempromosikan lebih banyak permen dibandingkan cokelat. Strategi reformulasi resep juga semakin umum dilakukan, di mana cokelat dicampur dengan bahan tambahan lebih murah untuk mengurangi penggunaan cocoa butter.
Namun, ke depan, pemulihan industri masih sangat bergantung pada perbaikan hasil panen di Afrika Barat dan penyesuaian rantai pasok. Jika stok tetap ketat sementara permintaan mulai pulih, harga kakao bisa kembali meroket.
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH
[email protected]