The Fed Belum Mau Turunkan Suku Bunga, Beberapa Saham RI Terancam Melemah
Jakarta – Hari ini, bursa saham Indonesia harus bersiap-siap menghadapi berita kurang menggembirakan dari Amerika Serikat (AS). Pasalnya, Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), sekali lagi memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di kisaran 4,25-4,50%. Keputusan ini diperkirakan akan berdampak negatif pada beberapa sektor.
Meski The Fed memilih untuk tidak menurunkan suku bunga acuannya, keputusan ini tidak sepenuhnya disetujui oleh semua pihak. The Fed masih membuka kemungkinan untuk dua kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun 2025.
Pengumuman suku bunga oleh The Fed dilakukan pada hari Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (31/7/2025). Ini adalah kelima kalinya The Fed mempertahankan suku bunganya setelah sebelumnya menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember 2024.
Walaupun saat ini The Fed belum menurunkan suku bunga, pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral akan melakukan setidaknya satu kali penurunan tahun ini, dan mungkin dua kali sebelum akhir 2025. Penurunan pertama diperkirakan terjadi pada bulan September.
Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers setelah rapat mengatakan bahwa saat ini masih merupakan masa-masa awal dari tarif Trump dan pengaruhnya terhadap ekonomi AS, sehingga masih banyak ketidakpastian yang ada.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, sebelum pernyataan Powell, para pelaku pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga di bulan September sebesar 64%, namun setelah komentarnya, kemungkinan penurunan suku bunga seperempat poin turun menjadi 46%.
Sebelumnya, pelaku pasar sudah optimis bahwa The Fed akan kembali mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Sehingga beberapa emiten sudah memberikan respon kurang positif sebelum The Fed mengumumkan keputusan tersebut.
Berita kurang baik ini dapat berdampak negatif pada tiga sektor utama yang rentan terhadap keputusan suku bunga BI, yaitu sektor perbankan, teknologi, dan properti.
Beberapa emiten di sektor-sektor ini yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan merespon negatif dalam jangka pendek.
Saham Perbankan
Pergerakan beberapa saham perbankan dalam minggu ini cenderung kurang baik, meskipun Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga acuannya menjadi 5,25% pada 15-16 Juli lalu. Penurunan pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Juni 2025 menjadi 7,7% dari 8,43% pada Mei 2025 mencerminkan penurunan performa perbankan akibat menurunnya kredit masyarakat yang disebabkan oleh penurunan daya beli.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga bulan ini dapat memperburuk kinerja harga saham perbankan dalam jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang kembali tergantung pada keputusan suku bunga BI dan hasil kinerja keuangan semester I 2025.
Saham Teknologi
Saham teknologi yang dikenal sangat rentan terhadap keputusan suku bunga juga menunjukkan performa yang kurang baik. Saat ini beberapa saham teknologi di BEI mencatatkan kinerja harga saham yang cukup baik setelah keputusan BI menurunkan suku bunga.
Namun, dengan keputusan The Fed, bisa menghentikan reli saham-saham teknologi dalam jangka pendek. Untuk jangka panjang tetap tergantung pada keputusan suku bunga BI dan hasil kinerja keuangan semester I 2025.
Saham Properti
Beberapa saham properti di BEI telah menunjukkan performa yang baik setelah BI menurunkan suku bunga bulan ini. Namun, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga semalam bisa menghentikan reli saham-saham properti dalam jangka pendek.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan PANGKEP NEWS Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
PANGKEP NEWS RESEARCH
(saw/saw)