Ribuan Pedagang di Sekitar Candi Borobudur Mengalami Kerugian, Begini Tanggapan Pemprov Jateng
PANGKEP NEWS, SEMARANG – Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) mengungkapkan kekhawatiran yang dalam mengenai kebijakan yang dinilai merugikan ribuan pengusaha lokal di kawasan candi Buddha tersebut.
Ketua FMBB, Puguh Triwarsono, menjelaskan bahwa forum ini adalah gabungan dari masyarakat adat, pelaku wisata, pemilik destinasi, pedagang, dan pelaku UMKM di sekitar Candi Borobudur.
Para anggota forum menyampaikan kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan hingga 83 persen, terutama setelah adanya kebijakan pemindahan pedagang dari zona 2 ke Kampung Seni Borobudur di Dusun Kujon, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
“Dahulu bisa mendapatkan antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Sekarang pendapatan hanya Rp 4.000 hingga Rp 50 ribu per minggu. Ini sangat ironis,” ujar Puguh, merujuk hasil kajian Bappeda dan kondisi lapangan saat audiensi di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, pada hari Rabu (16/4).
Puguh menilai bahwa kebijakan pemindahan pedagang yang didasari oleh kesepakatan bersama ini malah menimbulkan ketimpangan dan memicu kemiskinan struktural.
Usaha besar mulai muncul di lokasi baru dengan menjual produk serupa, mengakibatkan pedagang kecil kesulitan bersaing. Selain itu, penutupan akses pintu masuk utama ke Candi Borobudur juga menjadi sorotan.
“Wisatawan dipaksa masuk melalui Kampung Seni di Dusun Kujon dan menggunakan shuttle milik investor. Akibatnya, usaha di sekitar pintu satu, dua, dan tiga seakan mati suri,” ungkap Puguh.
Dia juga mengusulkan solusi konkret, seperti pemberian voucher belanja kepada pengunjung agar berbelanja di Kampung Seni Borobudur di Dusun Kujon, tanpa perlu menutup akses pintu lainnya.