Latihan Militer di Qamishli, Suriah
Di kota Qamishli, timur laut Suriah, warga sipil menjalani pelatihan militer untuk mempelajari penggunaan senjata dan menjaga keamanan lingkungan mereka dari ancaman serangan. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya aksi kekerasan di wilayah pantai Suriah pada awal bulan Maret yang mengakibatkan ratusan warga Alawi kehilangan nyawa.
Pelatihan ini dipimpin oleh Nabil Ismail, seorang pelatih yang ditunjuk oleh otoritas Kurdi. Menurutnya, inisiatif ini adalah reaksi atas serangan balasan oleh pendukung bersenjata terhadap pasukan keamanan baru Suriah, sebagai akibat dari konflik berkepanjangan yang melibatkan pendukung presiden Bashar al-Assad yang telah digulingkan.
Tidak hanya pria, sejumlah ibu-ibu juga turut serta dalam latihan militer ini. Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang didominasi Kurdi dan mendapat dukungan dari AS, telah sepakat untuk bergabung dalam struktur negara baru Suriah bulan lalu. SDF saat ini mengendalikan sebagian besar wilayah timur laut yang kaya akan minyak.
Selain latihan senjata, warga juga diajarkan bagaimana memeriksa kendaraan di pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya peningkatan keamanan di tengah ketidakstabilan yang terus berlangsung.
Negara-negara Barat terus memantau perkembangan politik dan keamanan di Suriah. Mereka menuntut pembentukan pemerintahan yang inklusif, penguatan institusi, dan penanganan kelompok ekstremis seperti ISIS dan al-Qaeda, yang sebelumnya telah menyebabkan kematian ratusan warga Alawi.
Konflik Suriah menjadi lebih kompleks dengan adanya ribuan pejuang asing Muslim Sunni dari berbagai negara, termasuk China, Albania, Rusia, dan Pakistan, yang terlibat sejak awal perang. Mereka bergabung dengan kelompok pemberontak untuk melawan rezim Assad dan milisi Syiah yang didukung Iran.
Sejak pembubaran militer Suriah, Presiden Ahmed al-Sharaa kini bergantung pada sekitar 20.000 pejuang dari berbagai faksi, termasuk militan asing. Ketergantungan pada kelompok jihad garis keras menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik baru jika terjadi tindakan keras terhadap mereka.
Rencana penarikan pasukan AS dari timur laut Suriah juga menjadi faktor yang mempengaruhi stabilitas wilayah tersebut. Saat ini, sekitar 2.000 tentara AS masih berada di sana, bekerja sama dengan pasukan lokal untuk mencegah kebangkitan ISIS. Pentagon telah mengumumkan rencana pengurangan jumlah pasukan menjadi sekitar 1.000 orang dalam waktu dekat.