Jakarta –
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan pesan dari Secretary of the Treasury atau Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, setelah berakhirnya negosiasi tarif perdagangan yang berlangsung selama seminggu terakhir.
Dalam berbagai kesempatan negosiasi yang berlangsung di sela-sela kegiatan internasional seperti Pertemuan G20 Presidensi Afrika Selatan dan IMF-World Bank Spring Meeting, Sri Mulyani menyatakan bahwa Bessent menegaskan komitmen Amerika Serikat untuk terus aktif dalam menjaga peran lembaga internasional sebagai penyeimbang dalam sistem ekonomi global.
“Pak Scott Bessent menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi anggota aktif dan memimpin lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, yang juga menjadi platform untuk menjalankan agenda nasional Amerika Serikat melalui lembaga-lembaga tersebut,” ungkap Sri Mulyani saat konferensi pers terkait perkembangan negosiasi tarif dengan AS, Jumat (25/4/2025).
Dia menjelaskan bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh Trump belakangan ini, seperti penerapan tarif resiprokal terhadap mitra dagang utama, adalah upaya untuk menciptakan sistem ekonomi dan perdagangan yang lebih adil bagi seluruh dunia, termasuk AS.
“Selama ini, globalisasi sebagai mekanisme untuk membangun hubungan antar negara berdasarkan positive sum game telah memberikan dampak yang berbeda di setiap negara. Banyak negara miskin atau pasar berkembang merasa bahwa globalisasi tidak selalu bermanfaat secara adil,” kata Sri Mulyani.
“Namun, kini AS sebagai negara terbesar dunia juga merasakan sebagai korban dari globalisasi.
Ini memberikan dorongan bersama di G20 bahwa sistem perdagangan global dan internasional perlu direformasi, agenda ini akan terus menjadi topik diskusi dalam forum-forum internasional,” tegasnya.
Menyusul pesan tersebut, Sri Mulyani menyatakan bahwa semua pemangku kepentingan harus bersiap menghadapi berbagai perubahan dalam sistem ekonomi dan perdagangan dunia. Selain bersiap menghadapi tekanan ekonomi, perubahan ini juga memberikan peluang untuk membangun hubungan antar negara yang lebih adil.
“Kita harus terus mengawasi dampak dari proses ini yang bahkan dalam tiga bulan bisa memberikan dampak besar. Oleh karena itu, Indonesia harus menyiapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi dampak dari kebijakan yang mempengaruhi ekonomi dan perdagangan global,” tambah Sri Mulyani dengan tegas.