Aplikasi Alternatif WhatsApp Kian Populer, Pendiri Berikan Peringatan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Pavel Durov, CEO sekaligus pendiri Telegram, menyatakan bahwa aplikasinya kini semakin banyak digunakan. Hingga 2025, Durov menyebutkan bahwa pengguna aktif Telegram, yang menjadi pesaing WhatsApp, telah mencapai 1 miliar.
Meskipun persaingan antara kedua platform ini sangat ketat, Durov menekankan kelebihan Telegram, yakni tidak pernah membagikan data privasi pengguna meski diminta oleh otoritas.
Hal ini diungkapkan saat membahas rancangan peraturan Prancis yang mengusulkan pembukaan pesan pengguna aplikasi. Negara tersebut sedang menyusun aturan yang melarang enkripsi pesan yang berpotensi membuat Telegram dan beberapa aplikasi lainnya menjadi rentan.
UU kontroversial ini dapat menjadikan Prancis sebagai negara pertama yang mengompromikan privasi digital warganya.
Menurut Durov, meskipun diklaim dapat memerangi perdagangan narkoba, UU ini justru akan memunculkan dampak bahaya lainnya.
Aturan ini akhirnya ditolak oleh Majelis Nasional Prancis. Durov, yang pernah ditahan di Prancis, memuji langkah Majelis Nasional tersebut.
Dia mengungkapkan bahwa tidak ada jaminan hanya polisi yang akan mengakses backdoor setelah dibuka.
Akses ini kemungkinan bisa dieksploitasi oleh pihak lain, seperti agen asing atau peretas, yang pada akhirnya akan mengorbankan privasi pengguna.
“Secara teknis, tidak mungkin memastikan hanya polisi yang dapat mengakses backdoor. Setelah diperkenalkan, backdoor bisa dieksploitasi pihak lain, dari agen asing hingga peretas. Akibatnya, privasi pengguna yang taat hukum bisa terancam,” kata Durov dalam akun Telegramnya yang diambil dari PANGKEP NEWS, Kamis (24/4/2025).
Dalam unggahannya, Durov juga mempertanyakan efektivitas rancangan aturan tersebut dalam menangani kejahatan. Melemahkan aplikasi dengan enkripsi tidak akan menghalangi komunikasi penjahat.
Para penjahat, tambahnya, akan beralih ke platform pesan lain. Mereka bahkan mungkin menggunakan layanan yang kurang dikenal namun didukung teknologi keamanan.
“Penjahat bisa berkomunikasi dengan aman melalui aplikasi kecil yang lebih sulit dilacak berkat VPN,” jelasnya.
Durov juga mengklaim Telegram tidak pernah membagikan satu pun pesan pribadi kepada negara mana pun. Platform ini lebih memilih keluar dari negara yang mengharuskan merusak enkripsi Telegram.
Sejauh ini, Telegram hanya mengungkap IP Address dan nomor telepon tersangka kejahatan, sesuai aturan digital di Uni Eropa.
“Dalam 12 tahun sejarah kami, Telegram tidak pernah mengungkap satu byte pun pesan pribadi. Berdasarkan UU Layanan Digital Uni Eropa, jika diperintahkan oleh pengadilan, Telegram hanya mengungkap IP Address dan nomor telepon tersangka, bukan isi pesan,” klaim Durov.
1 Miliar Pengguna
Pada 1 Maret 2025, Durov melaporkan bahwa pengguna aktif Telegram telah mencapai 1 miliar. Selain itu, Durov juga menyatakan bahwa keuntungan perusahaan mencapai US$547 juta tahun lalu.
Hal ini menunjukkan bahwa Telegram semakin mendekati untuk menantang dominasi WhatsApp. Sebagai perbandingan, pengguna aktif WhatsApp saat ini lebih dari 2 miliar dan diperkirakan akan mencapai 3 miliar pada akhir 2025.
“Di atas kami ada WhatsApp, layanan murah yang meniru Telegram. Selama bertahun-tahun, WhatsApp berusaha meniru inovasi kami sambil menghabiskan miliaran dolar AS untuk lobi dan kampanye PR guna memperlambat pertumbuhan kami,” ungkap Pavel Durov.
“Mereka [WhatsApp] gagal. Telegram terus tumbuh, mendapatkan keuntungan, dan menjaga kemandirian kami,” tambahnya.
Berdasarkan data dari DemandSage, 10 juta orang telah berlangganan layanan berbayar Telegram Premium. India menjadi negara dengan pengguna Telegram terbanyak, mencapai 45% dari keseluruhan pengguna. Sementara itu, hanya 9% pengguna Telegram yang berasal dari AS.