Jakarta – Proyek Ekosistem Baterai EV Indonesia Segera Dimulai
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa proyek ekosistem baterai untuk kendaraan listrik akan segera memasuki fase pembangunan. Targetnya, pemancangan pertama akan dilakukan sebelum bulan Agustus 2025.
“Kami targetkan sebelum Agustus,” ujar Bahlil, di Kantor Presiden, Kamis (22/5/2024).
Proyek ekosistem baterai kendaraan yang sudah dimulai sejak tahun 2022 ini sempat berjalan lambat, sehingga pemerintah memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan LG Energy Solution.
Sebelumnya, pada Juli 2024, Presiden Joko Widodo telah meresmikan salah satu bagian dari investasi di Karawang yang mencapai US$ 1,2 miliar. Namun, ini hanya bagian dari keseluruhan proyek ekosistem baterai mobil yang bernilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 165,3 triliun.
Bahlil menambahkan bahwa US$ 1,2 miliar tersebut sebenarnya adalah bagian dari proyek LG yang telah diresmikan oleh pemerintahan sebelumnya. Saat ini, sekitar US$ 8 miliar lagi sedang berjalan, mulai dari hulu hingga ke Baterai Cell dengan kapasitas 20 gigawatt.
Bahlil menegaskan bahwa keputusan untuk mengakhiri kerja sama dengan LG diambil karena negosiasi yang terus berlarut-larut. Penggantinya adalah perusahaan Huayou.
“Sebagai ketua Satgas waktu itu, saya memutuskan untuk membatalkan kerja sama dengan LG karena terlalu lama. Kemudian, saya bersama Pak Rosan (Menteri Investasi) dan Pak Erick (Menteri BUMN) memutuskan untuk mencari penggantinya, yakni Huayou,” jelasnya.
Bahlil juga menjelaskan bahwa dalam konsorsium dengan Huayou, Indonesia tetap memiliki porsi terbesar. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga akan terlibat dalam pengembangan proyek berikutnya.
“Saat ini, porsi di hulu adalah 51%, dan di proyek gabungan berikutnya sekitar 30%,” ujarnya.
“Kami sedang mengupayakan peningkatan porsi karena Danantara juga akan berpartisipasi,” tambah Bahlil.