Dominasi Global Raksasa Baterai China dan Investasinya di Indonesia
Jakarta, PANGKEP NEWS – Contemporary Amperex Technology Co. Limited. (CATL), perusahaan baterai ternama dari China, kini menguasai sekitar sepertiga pasar baterai kendaraan listrik global. Selain itu, CATL juga memproduksi baterai penyimpan energi dari pembangkit listrik.
Didirikan pada tahun 2011, perusahaan ini telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan di China, terutama di wilayah Ningde.
Investasi di Banyak Negara
Saat ini, CATL berupaya meningkatkan kehadirannya di pasar internasional. Tahun lalu, 30% pendapatannya berasal dari luar negeri, meningkat pesat dari kurang dari 4% di tahun 2018.
Para pelanggannya meliputi perusahaan otomotif besar seperti BMW, Toyota, dan Volkswagen. CATL juga terlibat dalam sistem penyimpanan energi di Nevada dan Texas, serta mengumumkan proyek penyimpanan energi terbesar di dunia di Uni Emirat Arab.
Meski sebagian besar kapasitas produksinya masih terpusat di Tiongkok yang menyumbang sekitar 85% produksi baterai dunia, pada tahun 2023, CATL membuka pabrik pertamanya di luar negeri, tepatnya di Jerman. Sekitar 90% dari dana yang diperoleh dari pencatatan di Hong Kong dialokasikan untuk membangun pabrik baru di Hungaria yang akan beroperasi tahun ini.
Pada Desember 2024, CATL juga mengumumkan kolaborasi dengan Stellantis untuk mendirikan pabrik baterai di Spanyol, dengan target produksi dimulai akhir tahun depan.
Investasi CATL di RI
CATL berencana mengalokasikan investasi sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 97,87 triliun untuk proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. Proyek ini akan mencakup seluruh rantai pasok mulai dari tambang nikel, smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), hingga fasilitas daur ulang baterai.
Di sektor hulu, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dari Indonesia akan memiliki 51% saham, sementara sisanya dikuasai CATL. Di sektor antara dan hilir, melalui skema Joint Venture 2, 3, dan 4, BUMN akan memegang 30% saham, lainnya dipegang CATL.
CATL juga akan bekerja sama dengan Ningbo Contemporary Burnp Legend Co. Ltd dalam proyek Dragon yang berfokus pada rantai produksi baterai listrik di Indonesia.
CATL Hitung Ulang Investasi
Awalnya, CATL berencana menginvestasikan US$ 1,2 miliar untuk produksi baterai sel berkapasitas 15 Giga Watt Hour (GWH) di Indonesia. Namun, berdasarkan persetujuan ODI (Overseas Direct Investment), nilai ini dikurangi menjadi 6,9 GWH atau US$ 417 juta.
Deputi Promosi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan, menyatakan CATL sedang menilai kembali proyek ini untuk memastikan kapasitas investasinya di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan permintaan mobil listrik.
Menurut Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho, saat ini nilai investasi baru mencapai setengah dari yang direncanakan, yaitu sekitar 6,9 GWH atau US$ 417 juta. IBC terus berkomunikasi dengan CATL untuk mencari solusi atas perbedaan nilai investasi tersebut.