Jakarta –
Pekan depan, perdagangan di pasar keuangan akan sangat singkat, karena hanya berlangsung selama tiga hari kerja sebelum libur panjang untuk memperingati kenaikan Tuhan Yesus.
Di pekan yang pendek ini, posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level resistance, yang dapat menimbulkan risiko aksi ambil untung jangka pendek setelah kenaikan lebih dari 10% dalam satu bulan.

IHSG
Dari sisi teknikal, IHSG sedang menguji resistance MA200 harian. Jika tidak berhasil menembus level 7300, bisa jadi akan berbalik arah menuju support terdekat di kisaran 6900 – 7000.
Selama sepekan lalu, banyak sentimen positif yang diterima pasar sehingga pergerakannya berakhir dengan catatan positif. Mulai dari kembalinya investor asing dengan mencatat net buy sebesar Rp5 triliun di pasar reguler, penguatan rupiah yang cepat ke level Rp16.200/US$ kembali, berita terbaru dari Danantara yang lebih serius membuat ekosistem BUMN lebih sehat, hingga pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.
Tidak hanya BI, bank sentral di kawasan regional seperti China dan Australia juga secara serempak menurunkan suku bunga. Tampaknya, sentimen ini akan terus berpengaruh pekan depan.
Selain pemangkasan suku bunga, sentimen positif datang dari laporan terbaru JPMorgan per 19 Mei 2025 yang meningkatkan status pasar saham emerging market menjadi Overweight dari sebelumnya Netral.
Namun, pelaku pasar juga mempertimbangkan volatilitas yang bisa meningkat seiring dengan ancaman tarif baru dari Trump ke Uni Eropa hingga 50% akibat negosiasi yang buntu, serta tarif 25% untuk produk Apple dan Samsung.
Selain itu, pasar obligasi di AS mengalami aksi jual besar-besaran dengan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun hingga lebih dari 4,5% pekan lalu. Bahkan, pada 22 Mei, yield tenor 30 tahun sempat melonjak ke level 5,15% secara intraday, menandai posisi tertinggi sejak Oktober 2023.
Di sisi lain, pemegang surat utang terbesar AS, yaitu Jepang, juga mengalami masalah domestik seperti krisis obligasi. Jepang menghadapi inflasi yang semakin meningkat dan tren kenaikan suku bunga. Jepang memiliki arah fiskal dan moneter yang berbeda dari negara lain yang berharap penurunan suku bunga. Ini memicu risiko carry trade kembali muncul dan bisa jadi Jepang menjual sebagian UST untuk memperbaiki kondisi domestiknya.
China, yang sebelumnya menjadi pemegang UST terbesar kedua, terlihat juga melakukan penjualan besar-besaran dan posisinya bergeser ke urutan ketiga. Ini perlu diantisipasi sebagai risiko yang dapat mempengaruhi pasar pekan depan.
Mengenai data, ada beberapa yang dinanti rilisnya dan cukup penting untuk diperhatikan karena bisa menjadi penggerak pasar di masa depan.
Dari eksternal, ada data penting terkait risalah The Fed yang akan diumumkan pada 29 Mei waktu Indonesia. Sayangnya, pasar kita sudah libur, jadi potensinya akan direspon setelah libur panjang.
Meski demikian, jika ada prediksi yang lebih hawkish harus diantisipasi, karena sikap pasar yang forward looking akan membuat pelaku pasar cenderung wait and see, sehingga volatilitas bisa lebih tinggi.
Sementara itu, dari internal ada kabar positif dari pengumuman sejumlah insentif ekonomi untuk kuartal II tahun 2025. Insentif tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan perekonomian nasional, terutama selama periode libur sekolah di bulan Juni-Juli 2025.
Lebih lanjut, pemerintah telah menyiapkan 6 Paket Stimulus berbasis konsumsi domestik, dengan fokus pada peningkatan aktivitas masyarakat di sektor transportasi, energi, hingga bantuan sosial.
Secara keseluruhan, kami melihat banyak sentimen positif di dalam negeri. Namun, pelaku pasar juga mempertimbangkan risiko dari luar negeri dan potensi aksi ambil untung yang dapat memicu koreksi normal, terutama karena antisipasi IHSG di resistance dan libur panjang. Biasanya untuk dana cair dibutuhkan T+2, jadi perdagangan Senin (26/5/2025) akan cukup menjadi penentu penutupan IHSG di pekan terakhir bulan Mei.
PANGKEP NEWS RESEARCH