Jakarta, PANGKEP NEWS –
Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan memberikan respons besar terhadap Ukraina. Hal ini disebabkan oleh langkah Kyiv yang melakukan serangan ratusan drone ke beberapa pangkalan militer di pedalaman Rusia.
Menurut laporan pada Senin (2/6/2026), dalam operasi bernama sandi “Jaring Laba-laba” yang direncanakan selama 18 bulan, Ukraina melancarkan serangkaian serangan pesawat nirawak berskala besar dan serentak terhadap pangkalan udara di Rusia pada hari Minggu.
Sumber dari Badan Intelijen Ukraina (SBU) menyatakan bahwa serangan pesawat nirawak pandangan orang pertama (FPV) mengenai Pangkalan Udara Belaya di Oblast Irkutsk, yang berjarak 2.500 mil dari garis depan di Ukraina. Pangkalan Udara Olenya di Oblast Murmansk, Pangkalan Udara Dyagilevo di Oblast Ryazan, dan Pangkalan Udara Ivanovo di Oblast Ivanovo juga menjadi target.
Menurut SBU, 41 pesawat Rusia terkena serangan, termasuk pesawat peringatan dini dan kontrol udara A-50 serta pesawat pengebom strategis Tupolev Tu-95 dan Tu-22M3 yang digunakan untuk meluncurkan rudal jelajah ke Ukraina. Serangan ini juga menyebabkan kerugian sebesar US$ 7 miliar (Rp 114 triliun).
Secara teknis, drone-drone tersebut telah diangkut ke Rusia dan disimpan dalam truk-truk yang membawa unit kargo dengan atap bisa dibuka yang diparkir di dekat pangkalan-pangkalan udara dan diluncurkan dari jarak jauh. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa 117 drone telah menghancurkan lebih dari sepertiga pembawa rudal jelajah strategis Rusia.
Dengan dampak dan kerusakan signifikan ini, diperkirakan Kremlin akan memberikan respons sangat keras. Meskipun pernyataan tersebut tidak mewakili posisi resmi Kremlin, perhatian akan tertuju pada reaksi Moskow saat delegasi Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul pada hari Senin untuk membahas upaya mengakhiri konflik yang dipicu oleh Vladimir Putin.
“Kita dapat mengharapkan banyak suara dan kemarahan dari Moskow,” ujar Keir Giles dari lembaga pemikir Chatham House yang berbasis di London.
Saluran Telegram pro-Rusia membandingkan serangan Ukraina dengan serangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Blogger militer pro-Rusia dan beberapa pejabat menyalahkan kepemimpinan Rusia karena gagal melindungi infrastruktur militer sejauh Irkutsk di Siberia dalam serangan Kyiv ini.
Selain itu, pengamat pertempuran Max Boot dari The Washington Post dalam opini menyatakan “komando tinggi Rusia pasti sama terkejutnya dengan Amerika pada 1941.”
Namun, Cédomir Nestorovic, wakil direktur akademis di ESSEC Institute for Geopolitics & Business, menyatakan bahwa ia tidak yakin Rusia akan memilih meningkatkan ketegangan dan Moskow kemungkinan akan meremehkan signifikansi serangan ini untuk menghindari mengakui kemunduran.
“Saya tidak yakin Rusia akan meningkatkan ketegangan. Di garis depan di Ukraina, tentara Rusia maju sedikit demi sedikit. Ini adalah tujuan utama mereka. Serangan terhadap fasilitas di Rusia signifikan dan memalukan, tetapi bukan invasi,” jelasnya.
Di sisi lain, Vuk Vuksanovic, rekanan di LSE IDEAS, lembaga pemikir The London School of Economics, menyatakan bahwa Ukraina telah mencapai keberhasilan taktis terbesar sejak akhir 2022, yang secara diplomatis, berarti Moskow tidak memiliki insentif lagi untuk menyetujui gencatan senjata.
“Sebaliknya, Rusia tidak akan menyerah pada tuntutan mengenai keanggotaan NATO Ukraina dan wilayah yang diklaim telah dianeksasinya,” tambahnya.