Senjata Ampuh China dalam Perang Dagang dengan AS Kini Ada di Indonesia
Jakarta, PANGKEP NEWS – Di tengah meningkatnya ketegangan perang dagang, China mengandalkan salah satu kekuatan utamanya: dominasi dalam industri logam tanah jarang atau rare earth. Elemen penting ini menjadi fokus utama dalam negosiasi perdagangan terbaru antara Beijing dan Washington.
Logam tanah jarang, yang digunakan dalam produk seperti kendaraan listrik, turbin angin, perangkat keras, dan sistem senjata canggih, telah menjadi alat strategis dalam meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.
“Timur Tengah punya minyak. China punya rare earth,” ujar Deng Xiaoping, tokoh reformasi ekonomi China, pada tahun 1992.
Ungkapan ini tetap relevan saat China mengontrol 92% dari output logam tanah jarang yang telah dimurnikan di dunia, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Sejak awal April, Beijing mengharuskan eksportir logam tanah jarang untuk mengajukan lisensi ekspor untuk tujuh elemen penting dan magnet terkait. Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap tarif AS.
Aturan ini dinilai kompleks dan lambat oleh industri, memperlambat pasokan bahan baku penting ke berbagai pabrikan di seluruh dunia.
Akibatnya, pengiriman logam tanah jarang ke luar negeri menurun drastis, termasuk ke pabrik-pabrik di Amerika Serikat. Dampaknya terasa nyata, termasuk pada perusahaan otomotif besar AS, Ford, yang harus menghentikan sementara produksi SUV Explorer karena gangguan pasokan.
“Masalah logam tanah jarang jelas mendominasi bagian lain dari negosiasi perdagangan karena penghentian produksi di pabrik-pabrik AS,” ujar Paul Triolo, pakar teknologi di Asia Society Policy Institute, dikutip dari AFP.
Kejadian ini benar-benar menarik perhatian Gedung Putih,” tambahnya.
Kompromi
Meskipun ada tekanan internasional, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa pihaknya telah menyetujui beberapa permohonan ekspor dan terbuka untuk dialog lanjutan dengan negara-negara terkait.
Namun, ini justru menyoroti ketergantungan besar Washington pada pasokan China dalam pembuatan peralatan militer. Menurut analisis dari Gracelin Baskaran dan Meredith Schwartz dari Critical Minerals Security Program di Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah jet tempur F-35, misalnya, mengandung lebih dari 400 kilogram logam tanah jarang.
“Mengembangkan kapasitas penambangan dan pemrosesan membutuhkan upaya jangka panjang, yang berarti AS akan tetap tertinggal dalam waktu dekat,” tulis mereka.
Dominasi China
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa mengurangi ketergantungan pada China tidaklah mudah. Setelah insiden kapal nelayan China yang bertabrakan dengan kapal penjaga pantai Jepang pada 2010, Beijing menghentikan ekspor logam tanah jarang ke Tokyo.
Jepang pun mencoba berinvestasi pada sumber alternatif dan meningkatkan stok elemen vital tersebut, tetapi dengan hasil yang terbatas.
“Itu contoh yang baik betapa sulitnya mengurangi ketergantungan pada China,” kata Triolo. “Dalam 15 tahun sejak insiden itu, Jepang hanya mencatat kemajuan yang sangat marginal.”
Pentagon sendiri sedang mengejar strategi “mine-to-magnet” yang menargetkan rantai pasokan dalam negeri penuh untuk logam tanah jarang pada 2027. Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya soal investasi atau teknologi, tapi juga soal keberuntungan geologis.
“Konsentrasi logam tanah jarang yang bisa ditambang jauh lebih langka dibandingkan komoditas mineral lain, menjadikan ekstraksi lebih mahal,” tulis Rico Luman dan Ewa Manthey dari ING dalam analisis terbaru mereka.
“Inilah yang menjadikan logam tanah jarang sangat strategis dan memberi China posisi tawar yang sangat kuat.”
Kesepakatan Awal
Meski tekanan meningkat, para pejabat dari kedua negara mengumumkan bahwa mereka telah mencapai “kerangka kerja” untuk kemajuan lebih lanjut dalam pembicaraan perdagangan.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyatakan optimisme bahwa kekhawatiran soal logam tanah jarang “pada akhirnya akan terselesaikan”.
Namun, selama China tetap memegang kendali hampir penuh atas rantai pasokan logam tanah jarang global, dan selama infrastruktur AS belum siap memproduksi elemen-elemen ini secara independen, posisi Beijing dalam negosiasi kemungkinan tetap lebih unggul.
Logam Tanah Jarang di Indonesia
Indonesia sendiri semakin serius menggarap sektor tambang yang terkait dengan logam tanah jarang seperti zirkonium dan thorium, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Indonesia memiliki logam tanah jarang di beberapa lokasi dengan total cadangan 1,5 miliar ton, termasuk monasit, senotim, zirkonium silikat, ferro titanit, bijih nikel laterit, dan potensi lainnya.
Berdasarkan “Kajian Potensi Mineral Ikutan pada Pertambangan Timah” yang dirilis Kementerian ESDM pada 2017, logam tanah jarang ini tersebar di beberapa daerah, termasuk Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, dan Papua.
Meskipun total cadangan LTJ Indonesia sebesar 1,5 miliar ton, LTJ dapat dihasilkan dari produk samping timah, contohnya adalah monasit dan senotim.
Dari data Kementerian ESDM 2020, Indonesia memiliki sumber daya monasit sebesar 185.179 ton logam yang bisa dikembangkan menjadi cadangan. Untuk senotim, Indonesia memiliki sumber daya sebesar 20.734 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut.